Tolong Aku....(Part 1)

Wednesday, April 29, 2009 JS Hanniffy 41 Comments

Pemandangan miris masih terlihat diseputar kota kawasan Jakarta Timur waktu JengSri pulang taun kemaren. Makin sumpek lalu lintas dan yang paling menyedihkan adalah pemandangan yang tidak berubah saat JengSri tinggalkan Jakarta 6 tahun yang lalu, yaitu makin maraknya anak2 dijalanan. JengSri harus menghela napas saat anak2 jalanan mengelilingi mobil hanya untuk sekedar bersih2 mobil, mengetuk kaca jendela mobil, menengadahkan tangan dengan menampakkan wajah belas kasihan yang teramat dalam. Hati terasa berontak dan menjerit. KENAPA?!!! bahkan tak urung harus menahan airmata kala melihat mereka asyik bercengkrama dengan nasib. Nasib yang tidak pernah mereka tahu akan dibawa kemana hidup dan masa depan mereka. Tak sadarkah para petinggi ataupun kita bahwa mereka adalah penerus suatu generasi yang bernama BANGSA? lalu dibawa kemana bangsa dengan generasi penerus yang terlantar dijalanan seperti itu? Jeritan dan tangis dalam hati sedikit terobati. Hmm, setidaknya.
  • Terobati karena masih ada orang2 yang perduli dengan anak2 penerus generasi bangsa.
  • Terobati karena setidaknya masih ada sekelompok orang yang mau mengkampanyekan kepedulian terhadap Hak Anak.
  • Terobati karena setidaknya sebagian dari mereka terselamatkan menjadi seorang 'manusia'.
Unicef salah satu organisasi PBB dunia yang dikhususkan memperhatikan perkembangan kesejahteraan ibu dan anak tak henti2nya membuat program2 untuk peningkatan kesejahteraan sosial bagi ibu dan anak. Dimanapun Unicef berada, Eropa, Amerika, Australia dan Asia, para pemerhati profesional dari Uncief ini selalu berenergi untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk ibu dan anak. Kefokusan kinerja Unicef dalam mensejahterakan kehidupan ibu dan khususnya anak2 dilanjutkan dengan konfensi yang memunculkan sebuah undang2 tentang The Rights Of The Child. Mungkin undang2 ini perlu dibaca dan dipelajari pula oleh sahabat bloggers yang perduli akan pentingnya kehidupan seorang anak. You Raise Me Up, DBLN, 21.25-280409 Note: Photo diambil dari dokumen Unicef.

41 comments:

  1. Makasih jeng infonya.....
    Mudah2an anak2 indonesia di tahun mendatang kalo jeng lihat lagi bisa membuat jeng tertawa...
    nggak miris lagi...
    amiiiin

    ReplyDelete
  2. huh huh ya beginilah... sulit jeng kalo indonesia.. mengingat kancah politik indonesia masih seperti ini http://ferdianadi.com/2009/04/28/gaji-6536-juta-perbulan/ yaa.. tak tahulah. Tetapi yang saya tahu adalah bahwa anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara. entah sekedar perundang-undangan atau apa..

    ReplyDelete
  3. jeng, terharu sekali membaca postingan jeng sri kali ini, jadi inget sekitar 9 tahun yang lalu saya juga adalah bagian dari anak-anak jalanan itu, yang kesehariannya bercengkrama dengan nasib, bersahabat dengan debu, bercerita pada matahari

    ah saat itu nggak pernah lepas dari ingatanku
    dan ketika melihat mereka disini, saya seperti melihat diri saya 9 tahun yang lalu

    jeng maksud postingan di curi orang itu apa ya

    ReplyDelete
  4. wah, miris banget kalau ngeliat yang seperti itu mba.

    Tapi ada beberapa oknum yang gila, memanfaat kan anak-anak kayak gitu buat nyari uang. PErnah denger berita banyak anak disewakan buat minta-minta ? wah parah tuh, tapi saya rasa para orang tua rela kayak gitu karena desakan ekonomi juga. Pokoknya saya sedih banget kalau ngeliat yang kayak gitu, lebih sedih lagi karena saya gak bisa ngelakuin apa2.

    Mba ada ide gak ? buat anak jalanan gituh ?

    ReplyDelete
  5. Kupikir ad yg brani buka pikiran mereka yg bsanding hidup dijalanan..bahwa mereka lebih hebat dr tangan mereka yg tengadah.. Kupikir kita2 yg patut disalahkan jg yas jeng..hiks hiks..

    ReplyDelete
  6. seperti masa kecilku..sepertinya mereka lom maem tuh

    ReplyDelete
  7. Ya anak2 di belahan bumi manapun berhak mendapat kehidupan yang layak. Khusus menyangkut anjal, gepeng dan pengemis (anak2) ini masalah negara2 duia ketiga yg belum mndpt pemecahan yg khusus. Biasanya seiring dampak perkembangan sebuah kota, makin maju sebuah kota, makin marak jg jumlah anjal. gepeng dan pengemis td. Hal yg mestinya kt pikirkan, smg UNICEF ttp bs fokus pd hal ini. Semoga JengSri jg diberi kekuatan utk terus berjuang, he ya kan.

    ReplyDelete
  8. waaah kapan ya semua anak indonesia bisa merasakan duduk santai didepan komputer sambil ditemani beberapa makanan

    ReplyDelete
  9. ironis, di jogja pemkot mengeluarkan semacam perda untuk tidak memberi uang pada para pengamen dan anak jalanan,... ya kalo mereka mampu mengurus semuanya sih gak jadi apa, tapi yo mosok harus jadi peraturan...ak

    curiga juga agar hanya kota kelihatan bersih dari anak jalanan dan pengamen, biar turis tidak risih... bukannya membuat jalan yang ramah dan aman kepada anak-anak dan difabel eh embuhlah...

    ReplyDelete
  10. Hal paling mendasar yang membuat anak-anak terpelanting ke jalan raya dan hidup bagai burung (siang beratapkan langit yang terik, malam beratapkan embun yang dingin) ialah pendidikan. Pendidikan anak sama halnya dengan disiplin. Orang tua sebagai basis pertama bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka, bekal masa depan mereka. Bekal itu bukan bertumpu pada uang atau warisan yang besar. Pendidikan adalah modal utama yang akan mendisiplin anak demi masa depan mereka. "Agak ilmiah dikit nih".

    ReplyDelete
  11. adakah qt peduli terhadap mereka ?
    Bagaimana nasib mereka ?
    Apakah qt tidak berniat untuk mendirikan sebuah yayasan buat mereka ? cepat balek ke Indonesia diajeng.......... pimpin koalisi para blogger peduli anak jalanan.

    ReplyDelete
  12. Kalo lihat mereka masih kecil
    ngemis di jalan, gak pake sendal
    gak sekolah, rasanya saya miris banget jeng
    apalagi kalo mereka sampe menjadi eksploitasi orang2 tertentu yang mengeruk keuntungan dari mata polos mereka.

    ReplyDelete
  13. Jeng, kalau yang saya tahu, pemerintah kota sudah mengusahakan lho untuk mengumpulkan mereka, memberi semacam pengajaran/keterampilan. Cuman anak2 nya itu yang balik lagi ke jalan. Soalnya di jalan banyak yang ngasih uang sih...

    ReplyDelete
  14. Ah,,Indonesia..semakin "ramai" aja

    ReplyDelete
  15. anak, pengemis,gelandangan, orang miskin harusnya dipelihara negara..
    seperti dalam pasal yang saya lupa??
    hehehehehe

    ReplyDelete
  16. Dik, begitulah negeri kita. Negeri yang sejatinya dianugerahi kekayaan darat, air dan udara paling besar di seluruh dunia, tetapi justru tidak pernah bisa mengelolanya dengan baik. Sudah habis rasanya airmata dan rasa getir kita untuk setiap hari menyaksikan pemandangan-pemandangan miris seputar kemiskinan dan ketakberdayaan di jalan-jalan. Sudah 60 tahun lebih negeri kita merdeka Dik, tetapi tetap tak berdaya dan tak punya wibawa serta daya tawar apa-apa di mata dunia. Dan untuk seseorang seperti aku yang tak punya hati cukup kuat, lahirlah lantas semacam keputusasaan atas kenyataan ini. Sejarah membuktikan, bahwa ternyata para pemimpin dan pengelola negeri yang diberi mandat dan amanat oleh rakyat untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik,tak pernah terbukti bisa mengemban amanat tersebut secara tulus, iklas dan berkeadilan. Politik, ya, politik yang disalahgunakan hanya untuk kepentingan kekuasaan, itulah yang selalu merecoki proses pembangunan bangsa kita. Dan itulah yang membuat orang2 putusasa semacam aku menjadi golput. Tetapi jangan kuatir dik, aku juga tidak berpangku tangan atas kenyataan ini. Walau hanya dalam lingkup yang sangat kecil, aku dan kawan-kawan di tempatku terus berusaha berbuat untuk menolong orang2 yang saat ini nasibnya belum cukup beruntung. Setidaknya, aku dan kawan2 juga berbagi dengan mereka yang ada di jalanan mengais kehidupan.

    ReplyDelete
  17. jeng udh ntn slumdog kan?
    sama bgt india dan indonesia ttg anak2 ini, mrk di eksploitasi oleh org2 yg bejat, klo liat filmnya sampe ada dibuat buta biar bisa minta2..mirisss bangeeddd...
    kadang aku kasian sama mrk, cmn kadang kepikiran jg mrk minta2 gitu uangnya gak mrk yg pake tp org2 bejat itu...

    ReplyDelete
  18. kasihan anak-anak indonesia, itulah potret cerminan indonesia, padahal itu diibukota negara kita, bagaimana dengan nasib anak-anak lain diluar jakarta, mungkin lebih memprihatinkan.

    ReplyDelete
  19. Ya jeng,Mell pun sering liat juga klw pulang jakarta,atau pun medan..msh banyak anak2 yg jadi peminta2,yg seharusnya mereka duduk belajar disekolah,ini berkeliaran dijalanan.
    Gk bisa comment bnyk lg ach,jadi sedih..!

    ReplyDelete
  20. mampir lagi diajeng, jadilah yang pertama disini

    ReplyDelete
  21. Aku ngeronda disini nungguin part 2

    ReplyDelete
  22. kemana yah undang² yg menyatakan, anak² yang terlantar dipelihara oleh negara?? sementara ini belum bisa dibuktikan.. *miris*

    ReplyDelete
  23. kadang cuman bisa berkata: "kasian" yah bukan begitu mbak...walaupun hati ingin berontak tapi kemampuan kita membatasinya.

    ReplyDelete
  24. maaf mba jeng sriiii
    pemerintahnya lagi sibuk koalisi
    jadi kesejahteraan ibu dan anak tidak terurusi
    kasihan mereka cuma bisa makan nasi basi

    mari tolong sesama

    ReplyDelete
  25. mudah2an pendidikan dasar gratis bisa menjadi sdikit solusi perbaikan buat masa depan anak2 indonesia

    ReplyDelete
  26. Kalo kita hanya berteriak2 siapa yg harus bertanggung jawab dg ini semua kayaknya gak bakalan ada habisnya tuch Jeng..

    Terus berbagi..Kita mulai dari diri kita sendiri,sekarang..

    ReplyDelete
  27. yuk belajar dan membangun mental bermartabat.. :)

    ReplyDelete
  28. bener kata mbak ajeng mulailah dri diri kita sendiri karena kemampuan kita sangat terbatas

    ReplyDelete
  29. Aku Ingin Marah..............................
    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.............
    Kurang Ajar..........WAAAAAAAAAAAAAA......

    ReplyDelete
  30. Dan lebih miris lagi....ada orang yang memanfaatkan situasi...mereka dikumpulkan dan dkoordinasi....uang hasi jerih mereka menjual kesedihan dan air mata dikebiri....

    ReplyDelete
  31. xixixixixixi
    (eh apa bacanya ya?)

    ReplyDelete
  32. mangkanya, segeralah JengSri pulang ke Indonesia, agar mereka2 yang di jalan itu ada yang memperhatikan secara seksama melalui Unicep-nya...

    ReplyDelete
  33. mereka..anak-anak itu adalah generasi penerus bangsa ini....
    berikan yg terbaik untuk mereka...berikan kesempatan untuk mereka....

    ReplyDelete
  34. sebenernya pas anak kecil ngemis, boleh gak sih ngasi uang? katanya... ga baik buat perkembangannya gt :s bingung

    ReplyDelete
  35. Di sekelilingku banyak yang lebih miris. Aku sendiri bingung, mau berbuat tapi gak bisa. Umur 11 tahun udah kerja, kerjanya sampai jam 12 malam lagi.

    ReplyDelete
  36. nice artikel mbak, salam kenal
    jgn lupa komen baleknya, mkasih

    ReplyDelete
  37. tapi kadang aku suka sebel tuh mbak ma anak jalanan yang udah dikasi uang, malah menggunakan uangnya untuk hal-hal yang ga bener

    ReplyDelete
  38. Sebagai sesama anak bangsa, mungkin hanya sebatas sikap priharin yang bisa kita lakukan karena kita tidak punya kuasa untuk berbuat lebih. Saya kadang juga heran, apakah para pemimpin itu sadar bahwa di pundak mereka ada beban berat daripada sekedar memperebutkan kekuasaan seperti yang nampak seperti sekarang ini. Padahal kalau mereka sadar, kekuasaan yang sedang mereka perebutkan itu diperoleh dengan jargon atas nama rakyat. Kasihan memang rakyat, dari periode ke periode hanya jadi mainan para elit politik dan kekuasaan. Giliran mau pemilu, dimana-mana rakyat, rakyat dan rakyat. Tapi setelah kekuasaan di tangan, rakyat tunggu dulu, lima tahun lagi baru mereka ingat rakyat. Sungguhpun begitu, sepertinya kita sebagai rakyar juga senang dimainkan seperti itu. Buktinya, pemimpin yang suka bohong, arogan, bahkan terkesan penipu, masih juga mereka percaya. Hm....aneh memang bangsa ini. Saya kadang agak ekstrim berfikir, mungkin baru akan ada perubahan jika terjadi revolusi (cutting generasi) pada bangsa ini. JengSri prihatin, saya prihatin, semua prihatin, tapi akan tetap menjadi prihatin tanpa ada daya merubahnya.

    ReplyDelete
  39. Anak-2 itu butuh bantuan segera. Mereka adalah anak-2 masa depan. Mereka berhak memiliki mimpi yang indah. Mereka berhak mendapatkan perlindungan.
    Haruskah menunggu uluran tangan pemerintah utk mengatasinya ?? Pasti ada cara lain yg lebih efektif....

    ReplyDelete

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds