Divorce

Wednesday, May 20, 2009 JS Hanniffy 62 Comments

Sahabat bloggers, Dunia krisis, gonjang ganjing, krisis ekonomi, krisisi global warming, gak ketinggalan krisis pernikahan. Gak disangka kalau ternyata Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang memiliki angka perceraian cukup tinggi seperti Amerika. 

Wuih, kenapa bisa ini terjadi? Di negara yang justru mayoritas mempunyai keyakinan kuat tentang yang namanya ikatan pernikahan menurut agama?
Yang masyarakatnya berkeyakinan (atau dinina bobokan?)  bahwa menikah adalah suatu jalan terbaik untuk hidup bersama? Hubungan yang disebut pacaran dalam waktu 2 bulanpun bisa langsung tancap ke KUA untuk mensahkan hubungan mereka. 

Karena kata agama itu halal, karena kata orang tua itu baik. Lalu kenapa sesuatu yang halal dan yang baik bisa menjadi sebuah momok yang bernama PERCERAIAN? Dengan tidak bermaksud menentang siapa dan apapun, seorang ordinary blogger yang bernama JengSRI ingin menyampaikan uneg2 tentang PERCERAIAN kepada KAMU. 


Kamu sebagai perempuan, kamu sebagai kaum lelaki, kamu sebagai ustad, kamu sebagai pendeta, kamu sebagai monk, kamu sebagai pengacara, kamu sebagai ahli hukum, dan kamu sebagai MANUSIA.

Hukum  dan ayat apapun dalam kitab apapun yang mengatakan tentang peraturan sebuah PERCERAIAN seharusnya di HAPUS dan di TIADAKAN! 

Perceraian seharusnya tidak dijadikan sebuah undang2. Psychologically, dari awal pernikahan kedua belah pihak masing2 sudah bersumpah secara legal dihadapan hukum manusia dan Tuhan bahwa mereka akan sehidup semati menjadi belahan jiwa sampa ajal menjemput.

Lalu  kenapa pula dibuat adanya undang2 perceraian? 
Kalau begitu sebuah pernikahan sudah dipersiapkan oleh manusia (dan Tuhan?) untuk sebuah perceraian? 
Lalu apa bedanya tinggal bersama secara ilegal (tidak sah karna tidak menikah) dengan tinggal bersama secara sah (menikah) kalaupun akhirnya nanti bercerai ?
Bukankah semuanya ini tentang sebuah kertas yang harus ditanda tangani?

Silahkan ngomel kalau ada yang gak setuju dengan ini. Tapi memang inilah kenyataanya. kawin cerai menjadi trend. kalau tidak kawin cerai minimal ya POLIGAMI. Kalau tidak poligami ya minimal punya simpenan.

KACAU. Negara amburadul. Rakyat jadi dodol.

Jadi sebuah pernikahan adalah hanya sebuah surat legal yang disahkan secara hukum dan bisa dibubarkan secara hukum? 
Dimana sakralnya sebuah PERNIKAHAN kalau begitu kalau ada undang2 tentang perceraian?
Masih bisakah disebut Pernikahan adalah sesuatu yang suci dan sakral kalau kemudian ada undang2 yang membolehkan sebuah perceraian? 

Apapun alasannya, apapun takarannya, apapun prosesnya, PERCERAIAN adalah 'noda' bagi sebuah pernikahan. Noda inilah yang akan menjadi trauma. Trauma bagi sang anak, trauma bagi kedua belah pihak, trauma bagi sanak family kerabat dekat, trauma kepercayaan pada sesuatu yang bernama pernikahan! Arrghhhh!!!!

 Vote 'NO' To Divorce!!
 Bukan Cinta Biasa,

 DBLN, 21.52-190509

62 comments:

  1. Yang pasti perceraian diperlukan kalau suatu pernikahan sudah tidak membawa lagi kebahagiaan, ketenangan dll. Kalau tidak boleh bercerai, pasti banyak orang yang protes donk, walaupun dibenci Allah, perceraian ada manfaatnya juga. Ada apa sich Jeng???

    ReplyDelete
  2. loh loh jeng, belum nikah kok udah mikir tentang bercerai? xixixi...
    kapan posting tentang persiapan menikah? xixixi :D

    ReplyDelete
  3. bersatu kita teguh, bercerai mare kawin lagi!!!!

    siapa yang SETUJU?

    jedotin jidat ke tembok.

    kabur ah sebelum di lemparin duit receh sekarung, wakakakakakakakakakakakakakkk

    ReplyDelete
  4. ah,skrg banyak banget ya kasus kawin cerai,beda dengan jaman kepemimpinan Soeharto dulu

    ReplyDelete
  5. jangankan mikir perceraian. mikir pernikahan ajah belum :) karena pacaran saja belum :)

    tapi bener juga tuh. perceraian sudah menjadi pembahasan umum.

    vote no divorce

    ReplyDelete
  6. Yang paling banyak kawin-cerai adalah selebritis.......

    ReplyDelete
  7. Rasulullah bersabda "Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah adalah perceraian". Ini menunjukkan di satu sisi bahwa terkadang perceraian itu tidak bisa dihindari sehingga jika ada satu pasangan yang memang tidak ada kecocokan masih dipaksakan untuk terus, itu akan merugikan semua pihak. Maka dibolehkan perceraian.

    Karena itu, kalau masih bisa hidup bersama tanpa perceraian, maka pertahankan perkawinan itu.

    ReplyDelete
  8. Cerai salah satu jalan bt mencari kebahagian bru...

    ReplyDelete
  9. He..he...he... Sampean terlalu lama di luarnegeri, hingga wajar Pola pikirnya agak mirip orang luar negeri.

    Pernikahan adalah solusi dari sebuah hubungan. Solusi secara agama agar terhindar dari dosa, solusi di mata sosial agar diakui secara moral dimasyarakat, dan solusi secara Hukum agar terjaga Hak dan Kewajibannya atas masing-masing.

    Sementara Divorce, Perceraian. Adalah juga solusi, dimana perselisihan keluarga sudah memang tak bisa dipertahankan lagi. Dimana dalam satu Rumahtangga sudah tak ada saling menghargai lagi, untuk apa dipertahankan. Justru secara kejiwaan ini sangat merugikan. Baik untuk kedua pihak, anak bahkan keluarga sekitarnya.

    Perceraian, adalah solusi ke 1001 setelah upaya lain tak berhasil. Itupun digaris bawahi dengan tebal, Boleh dan benar ( halal ) tapi dibenci.

    Semoga Cinta kan abadi dihati kita masing-masing. ( inipun susah karena akan timbul cinta lain kepada yang lain juga ). Hingga tak perlu ada Pengadilan Agama.

    ReplyDelete
  10. aku setuju sama pendapat Ari, cukup lengkap, berdasar, dan masuk akal......

    Perceraian memang dibolehkan oleh "Agama" tapi itu sangat DIBENCI oleh "Agama"

    banyaknya perceraian diIndonesia, itu cuma beberapa persen saja dari jumlah pernikahan....
    artinya rakyat indonesia masih menjunjung tinggi arti sebuah pernikahan, adapun tren kawin cerai, sebagian besar dari mereka adalah artis/seleb, yang kehidupan mereka selalu diincar oleh para pemburu berita*gosip*.....

    itulah bahayanya menyebarkan berita yang tidak baik...........

    (mampir Jeng, black_id belum update juga)

    ReplyDelete
  11. Always together, Say NO to DIVORCE!

    ReplyDelete
  12. ya, saya juga menentang perceraian....
    lebih kasarnya adalah perpisahan, tapi sayapun percaya tak satupun yang menginginkannya. Kalaupun ada, sebenarnya awalnya bukan pertemuan untuk bersatu. Ada sesuatu dibalik penyatuan itu (tidak benar-benar ingin bersatu)

    ReplyDelete
  13. ass.
    cukup miris melihat,mendengar tentang seputar perceraian di negara ini. Perceraian meski dibumbui usaha untuk tetap menjalin komunikasi dengan mantan istri/suami tetap tidak mengenakkan.semoga kita terhindar.
    wassalam

    ReplyDelete
  14. Mungkin konsep dasar yang harus difahami adalah manusia hidup di dunia adalah dalam rangka beribadah kepada Alloh swt. Beribadah dalam arti seluas-luasnya (tidak hanya ritual dan ceremonial belaka) tetapi seluruh aspek kehidupan adalah dalam rangka beribadah kepada Alloh swt. Untuk itu seorang harus melakukan sesuatunya (motivasi) karena Alloh, dengan cara yang sesuai dengan kaidah2 yang ditetapkan oleh Allloh swt dan tujuan akhirnya dalam rangka mencari ridho Alloh swt. Inilah konsp dasar hidup.

    Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah kepada Alloh swt yang mempunyai aspek sosial, karena itu seorang muslim yang mau menikah adalah dalam rangka beribadah kepada Alloh sehingga cara yang ditempuhpun tidak melanggar aturan Alloh swt(yaitu Al Islam). Dengan pernikahan sesuatu yang tadinya haram menjadi hala, yang tadinya berdosa menjadi pahala tentunya dengan batasan tidak melanggar aturan (islam).

    Jadi pernikahan harus dilandasi dalam rangka ibadah kepada Alloh swt, dan untuk melaksanakan pernikahan diperlukan persiapan fisik/materi, persiapan imiah dan persiapan ruhiah. Memilih calon istri/suami sesuai kriteria agama dan memahami hakikat pernikahan dalam islam.

    Islam adalah agama yang memahami betul kondisi fitrah manusia, makanya Islam membuka pintu bernama perceraian. Dalam kasus khusus dimana 2 orang manusia (harus dilihat kasus perkasus) sudah tidak dapat "dipersatukan" lagi masih mungkin orang tersebut untuk bercerai dengan tahapan-tahapan yang panjang (maksudnya ada upaya untuk mempersatukan lagi). Kalau memang sudah tidak mungkin lagi dipersatukan barulah pintu perceraian dibuka.

    Menanggapi banyaknya perceraian, saya melihatnya sbb:

    Masih kurangnya pemahaman kepada Islam secara umum, termasuk tidak memahaminya konsep pernikahan di dalam Islam.

    Islam muncul ketika di persidangan perceraian sementara Islam tidak muncul dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga masing-masing.

    Jadi kenapa takut menikah????
    Perceraian??? Mudah2an enggak lah ya...

    ReplyDelete
  15. kunjungan balik jeng :)
    divorce..
    ih menakutkan.. :)

    salam kenal jeng :)

    ReplyDelete
  16. waduh kagak ngerti soal ginian mbak,, lah wong sayah belom nikah. Pacar ajah lho sayah tak punyak.... gmana punyak pengalaman kek itu :D

    salam kenal

    ReplyDelete
  17. gw aja bingung jeng ada orang bisa divorce
    i mean..mrk kan saling mencintai kan waktu memutuskan utk menikah, so mrk udh tau dong istri/suaminya spt apa, bnr gak..
    love him/her just the way they are lah...yg pasti dua org dipersatukan utk saling mengimbangi bukannya utk saling gontok2an...

    ReplyDelete
  18. jeng...
    blogmu banyak bener ampe yg ini aja gak ke link ama aku...taunya malah pas bekunjung ke Jonk trus ada apdetannya...hehehe...

    ReplyDelete
  19. MANTAPPPPP !!! heuheuheuheu, ayo cepet nikah mba :D, eh apa udah nikah ya

    mmm masalah ini gimana ya ? apakah pernikahan diciptakan untuk sebuah perceraian ? hahaha saya gak bisa berpikir :P

    ReplyDelete
  20. waduh jeng Sri jagn ngamuk ngamuk gtu dunk,jadi takut aku,,
    semua orang ngga ingin bercerai mba,
    ngga tau dink klo emng nikah niatnya buat bercerai,
    klo saya pribadi,pernikahan sangat agung,
    sebuah pernikahan sangat bermakna,
    pernikahan juga amat sangat berarti jika semua di fikirkan secara mendalam,
    di fikirkan apa yanhg bakal terjadi setelah menikah,dan siap mengasuh cikal bakal keturunan mereka dengan baik ,
    tentunya di jalan yang benar menurut agama saya!!
    semoga saya bukan orang yang akan ngikutin trend tsbt (kawin-cerai) :)

    ReplyDelete
  21. klo saya juga bakal mengikuti semua aturan dan norma yang ada!!
    peraturan agama ISlam!!
    dan berusaha menjadi yang terbaik dan mencari seseorang yang baik pula tentunya!!
    sesungguhnya setiap masalah pasti ada penyelesaiannya,jadi klo ngga dengan cerai bisa di atasin,kenapa kita cerai
    ups salah salah,maksdnya suami istri itu loh,,hahahaha

    ReplyDelete
  22. yess...say no to divorce , apa yang telah dipersatukan Tuhan jangan diceraikan oleh manusia , gitu katanya ...

    ReplyDelete
  23. divorce diizinkan Allah tetapi tidak disukai

    buku itu terbitan 2008 kok
    sebagai pengingat akan warisan dahulu
    setebal 950 halaman
    buatan pemerintah Kota Tanjung Pinang Kepulauan Riau
    setauku tidak diperjualbelikan
    mungkin bisa diminta aja.

    ReplyDelete
  24. dan aku salah satu korbannya... hehehehe..
    maksud lo?

    upss.... g ingin ke Gorontalo jeng..? lagi meriah nih.. ada festival seni budaya....

    ReplyDelete
  25. Siip, nice posting. Perceraian itu perbuatan halal yang dibenci Tuhan. Dan Tuhan juga membenci manusia yang tidak bisa mengambil sikap cerdas dan bersahaja dalam hidupnya. Bakwannya abis jeng, adanya surga mangrove. Ambil aja disana, hehe.

    ReplyDelete
  26. Divorce ?... gampang2 susah menanggapi situasi seperti ini.
    Kalo udah gak ada kecocokan, gak mungkin terus kan? Memang yang sering terdengar alasannya adalah "adanya ketidak cocokan lagi".
    Jadi berpikir neh, dulu waktu pacarannya gimana ya kok terus timbul ketidak cocokan? nah lho... makin puyeng gw...

    Btw, salam kenal juga Mbak JengSri.. (tuh jadi ngaco lagi..udah manggil Mbak..Jeng-nya dipanggil pula... heheh)

    ReplyDelete
  27. I say NO to divorce. Setuju bahwa pernikahan itu adalah ikatan sakral 2 insan yg disatukan oleh Tuhan, bukan hanya oleh selembar kertas. Menikah adalah pilihan, begitu jg dgn siapa kita menikah (ini kan bkn lg jaman Siti Nurbaya). Krn itu hrs benar2 dipikirkan apakah kita mau/rela menghabiskan seumur hidup kita dgnnya? Begitu kita memutuskan 'ya', hayatilah itu sebagai janji abadi. JANGAN pernah ada opsi perceraian. JANGAN pernah ada kata perceraian dalam kamus anda berdua. Kalau ada problem, selesaikanlah, like there's no other choice.
    Kalo memang ga sanggup, mending ngejomblo aja...sampai ketemu org yg dengannya kita mau dan rela melakukan komitmen itu!

    ReplyDelete
  28. entahlah, sepanjang masih bisa dilogika why not, tapi kalo hanya awur-awuran saja, ya nggak manusiawi. meskipun hanya ada satu di sejuta perkawinan, toh harus diatur juga agar bisa meyakinkan semuanya...

    ReplyDelete
  29. perceraian skrg malah jadi trend. kalo memang saling cinta, sayang dan pengertian, kenapa harus bercerai?? bukannya masa pacaran itu masa buat menyesuaikan diri dengan pasangan???

    ReplyDelete
  30. Aku gak mau cerai....!!! lha wong nikah ajah belom...!!!

    ReplyDelete
  31. diforce itu bahasa Indonesianya cerai to....?
    ooalah.... ya ya ya... jangan mau dicerai... atu menceraikan. Kenapa nikah kalau akhirnya cerai....

    ReplyDelete
  32. Gak sampai satu jam posting ini sudah mencapai 31 yang koment keren eui... Kalau githu saya berjanji, Insya Allah gak akan cerai dengan blognya Jeng Sri. hihihi... gak mudeng.com.my

    ReplyDelete
  33. aku benci mendengr perceraian mba...

    ReplyDelete
  34. "perceraian adalah sesuatu yang halal namun dibenci Allah" itu dalam Islam...

    moga aja banyak pasangan yang ga mo dibenci oleh Allah sehingga tetap mempertahankan pernikahan yang dulunya didasari untuk selamanya.....

    ak juga ga setuju ma yang namanya perceraian, banyak nyakitinnya...ya diri sendiri, ya anak.....

    ReplyDelete
  35. Mudah2an aku ga sampe ngerasain perceraian, Na'udzubillah...

    ReplyDelete
  36. hehhe sebenernya g trend jeng, ya gara gara infotainment mem blow up jadinya kek lgi musim kawin cerai, tengoklah di daerah daerah pedesaan masih banyak yg setia sampe akhir haya (halah bosoku kekeekk)

    akur deh sama pendapat Ari, dan big sugeng

    ReplyDelete
  37. kalo saya pikir sepertinya sih memang trend. jadi kalo di desa rumahtangga bisa akur karena suami dan istri sadar posisi masing-masing. kalo sekarang mungkin ga yahh... coz sepertinya suami istri malah bersaing di ranah yang sama... dan seharusnya kaan tidak demikian. jadi sadar posisi mencegah perceraian.

    salam kenal dari saya. ni ta link ke blog saya ya, minta ijinnya. kalo bisa tukeran sekalian. thanks

    ReplyDelete
  38. Diajeng nama dan dan angka dibawa widget soutmix itu apa sih? koq nama saya kagak ada yah?

    ReplyDelete
  39. Suatu pernikahan yang baik tidaklah menuntut seorang pria yang sempurna atau seorang wanita yang sempurna. Pernikahan hanyalah membutuhkan seorang pria dan wanita yang bertekad untuk berupaya bersama menuju kesempurnaan.

    ReplyDelete
  40. Kiat menghindari perceraian :
    1. Komunikasi Dua Arah
    2. Keterbukaan Masalah Seks
    3. Menerima Apa Adanya
    4. Jangan Biasakan Berbohong
    5. Jangan Cemburu Berlebihan
    6. Hindari Selingkuh
    7. Cari Orang Ketiga Sebagai Penengah
    8. Tetaplah Mesra
    9. Pasrahkan Kepada Yang Di Atas

    ReplyDelete
  41. Siapapun orangnya, perceraian merupakan sebuah perpisahan yang sangat mengecewakan. Tidak hanya bagi pelakunya namun juga bagi mereka yang terkena imbasnya. Saya tidak mempunyai keahlian untuk melakukan analisa kejiwaan, namun saya bisa ikut merasakan betapa pahitnya sebuah perceraian dan betapa besar pengaruh perceraian terhadap kejiwaan seseorang.

    Terus terang saya terenyuh apabila mendengar kisah anak-anak yang orang-tuanya bercerai. Mereka seperti kehilangan pegangan, bahkan tidak jarang menyalahkan diri mereka sendiri atas perceraian orang tuanya.

    Menurut saya, cinta dan kasih sayang orang tua bagi seorang anak haruslah didapatkan dari ayah dan ibunya, dan dalam satu keutuhan rumah tangga. Keutuhan ini merupakan fondasi bagi sang anak untuk mendapatkan kedamaian hati dan rasa aman, sehingga dia bisa tumbuh dengan normal.

    Ketika orang tua memutuskan untuk bercerai maka fondasi ini akan ikut terguncang dan membawa sang anak ke dalam kebingungan. Rasa damai dan aman yang selama ini didapatkannya tiba-tiba menjadi saru bahkan sirna. Selain itu, perceraian pun akan “memaksa” anak untuk mengerti sebuah kenyataan pahit yang mungkin terlalu dini bagi usianya.

    ReplyDelete
  42. i like this article jeng sri.. ok nice post.. good job.. smiless

    ReplyDelete
  43. Aku setuju bgt! Jgn sampe ada yg namanya perceraian,, sebisa mungkin dihindari...

    Aku jg aneh,, lha tdnya saling cinta koq tb2 mau pisah?! Apa cinta itu bs hilang yah??

    Tp ada saatnya perceraian jg diperluin agar ga nyakitin salah satu ato kedua belah pihak,, misal adanya KDRT,, nah lbh baik cerai kan drpd disakiti terus..

    ReplyDelete
  44. mnrt aku sih, kalo pernikahan hanya di dasari krn kasih syg/nita2 gt, pst kan trjd prcraian, tp klo prnkahan d dasari jg dg Ibadah. mngkn orcraian bs brkurang...

    ReplyDelete
  45. bener bgt jeng
    aq setuju dengan jeng sri
    undang2 perceraian hanya bisa memacu tumbuhnya angka perceraian juga
    menurut aq sich
    hehehehehe

    ReplyDelete
  46. semoga tidak terjadi dengan keluargaku amin...

    ReplyDelete
  47. baca yang udah pada komeng, tetap aja belum bisa nemu kesimpulan yang relevan untuk kasus tersebut diatas... baca ulasan JengSri dan sudut pandangnya, cuman satu yang mengusik, Indonesia termasuk di urutan tertinggi kasus perceraian, hmmm... yang latah berdalih tidak ada kecocokan atau lebih menajamkan insting yang lebih parah dari insting kesetiaan hewan. Mbuhlah!

    ReplyDelete
  48. o'o..
    perceraian itu jangan sampe kejadian deh,
    itulah kenapa saat kita belum menikah, kita harus memilih pasangan dengan amat selektif, jangan asal pilih, karena dia yang akan mendampingi kita mengucap akad akan menemani kita sepanjang hidup.

    SAY NO TO DIVORCE!!

    ReplyDelete
  49. hehe ngeri ah, cerai..hmm pasti gara-gara orang ketiga!

    ReplyDelete
  50. Sebenarnya tak ada yg 'salah' dgn undang2 ataupun org harus mempertanyakan kembali keberadaan UU yg menyangkut perceraian...semua itu untuk kebaikan manusia.

    Hanya saja, manusia / orang yg menjalankan UU itulah yg 'mempermainkan' UU tsb. Salah? Mungkin ya mungkin tidak...beda persepsi beda setiap individunya...ya oknum yg jelas bersalah!

    ReplyDelete
  51. yaaaaaah namanya kehisupan toh jeng, ada kawin ada cerai....trus apalagi ya jeng....hehehhhe

    ReplyDelete
  52. Diajeng koq belon jalan sih,....??? masih di kampus yah??

    ReplyDelete
  53. selamat sore berkunjung ya

    ReplyDelete
  54. Jeng Sri,
    semoga kelak mendapatkan jodoh yang baik
    langgeng hingga kematian menjemput
    Insya Allah :)

    ReplyDelete
  55. semoga pernikahanku kelak dijauhkan dari yang namanya perceaian.. say no to divorce.. setuju

    ReplyDelete
  56. JengSri harusnya bikin riset aja tentang perceraian yang makin marak di Indonesia ini.
    Respondennya pasti banyak !! Hehehe...

    ReplyDelete
  57. wah ketinggalan diriku baru komen sekarang, kayaknya aku belum nemu di kitab suci manapun tentang perceraian Jeng, yang pernah kubaca di kitab suci sih yang sudah disatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia... tapi kenapa yah perceraian masih saja ada... *prihatin*

    ReplyDelete
  58. wah jeng sri ngomel-ngoel disini nih, habis dari fb nya mampir kesini..

    tingginya angka perceraian barangkali dikarenakan pasangan suami istri kurang memahami inti komitmen dari sebuah pernikahan, banyak pasangan suami istri yang beranggapan dengan menikah menemukan kesamaan dirinya dalam pasangannya, padahal kalau saya melihat ini akan menjadi pemicu konflik internal.

    Bagi saya, pasangan kita baik itu suami atau istri, masing-masing mempunyai keunikan yang berbeda, dengan komitmen pernikahan itu artinya keunikan masing-masing dapat saling melengkapi kekurangan masing-masing sehingga akan tercipta hubungan rumah tangga yang saling mensupport. dalam perbedaan seharusnya kedua belah pihak dapat memahami keunikan dan perbedaan pasangannya sehingga membentuk tenggang rasa yang memperkuat komitment pernikahan.

    Saya kira itu yang saya alami selama ini.

    ReplyDelete
  59. Eh ternyata saya belum komeng ya??
    Tapi saya emang gak bisa terlalu banyak bicara soal Divorce Jeng
    karena dalam otak saya yang cuma sebesar biji mentimun ini mengatakan bahwa apapun bentuknya Divorce itu menyakitkan bagi semua pihak
    buat keluarga, buat suami, buat istri apalagi buat-anak-anak
    gimana gak sakit
    saya aja ditinggal sama pacar sedihnya setengah mati
    berasa gak bisa ngapain nih!!

    ReplyDelete
  60. Semua orang tidak pernah membayangkan (apalagi mengharapkan) perceraian saat melangkah ke gerbang perkawinan. Namun, adalah hak dari semua orang untuk mengambil keputusan berpisah manakala perkawinan pada akhirnya hanya membawa penderitaan salah satu pihak. Walaupun kita telah saling mengenal, kadangkala seiring berjalannya waktu banyak hal-hal tak terduga yang membuat rumah tangga menjadi oleng, seperti adanya ketidakjujuran, kekerasan maupun orang ketiga. Anakpun tidak bahagia hidup dalam rumah tangga yang sehat. Pada akhirnya perceraian bisa membawa ketenangan hidup, namun itu melalui pertimbangan yang amat sangat matang, dan merupakan upaya terakhir setelah berbagai upaya2 gagal.

    ReplyDelete

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds