18 May 2009

Pahlawan Devisa Negara

Sahabat bloggers, Menyambungi postingan JUSTICE yang ternyata sahabat bloggers juga sangat kritis dengan hal ini. Memang agak sedikit ngejelimet kalau mau dicari ujung permasalahannya tentang Tenaga Kerja Indonesia. Kalau mau cari siapa yang salah gak akan ada kelarnya. So, ada baiknya pemikiran yang kritis dari rakyat (dan seharusnya) dijadikan diskusi bagi para wakil rakyat dan presiden khususnya. Seandainya pemerintah lebih selektif dan MAU membrantas habis para pelaku agen2 tenaga kerja jadi2an, mungkin tidak akan terjadi pembludakan angka Tenaga Kerja Indonesia Unskilled yang pergi keluar negeri. Apa yang harusnya dilakukan oleh pemerintah?. Berikut pemikiran murni seorang blogger bernama JengSRI: A. Brantas tuntas agen2 tenaga kerja di Indonesia B. Semua WNI yang berminta kerja diluar negeri harus melalui Departemen Tenaga Kerja C. Dirikan Badan Latihan Kerja khusus bagi para Tenaga Kerja Indonesia D Persyaratan umur (Minimal 21 tahun) dan pendidikan yang memadai (Trainning) E Wanita menikah dilarang pergi bekerja diluar negri (dikhususkan karena anak) A. Brantas Tuntas Agen2 Tenaga Kerja Di Indonesia Apapun nama dari agen2 ini legal atau ilegal. Agen2 ini telah menciptakan sebuah bumerang dan dilema bagi pemerintah dan Tenaga Kerja Khususnya. Seperti contoh, pembuatan paspor dari identitas yang dipalsukan, seperti umur dan bahkan alamat si WNI yang ingin bekerja di luar negeri. Instansi ilegal yang seharusnya mensahkan identitas WNI secara legalpun menjadi ajang 'persen2an' antara beberapa pihak. B. Semua WNI yang berminta kerja diluar negeri harus melalui Departemen Tenaga Kerja Obviously! kalau sudah jalurnya kesini sudah pasti rakyat di didik lebih educatif, smart dan organized. C. Dirikan Badan Latihan Kerja khusus bagi para Tenaga Kerja Indonesia WNI yang tidak memiliki pendidikan tinggi paling tidak mendapatkan trainning khusus pada bidang yang diminati oleh masing2. Seperti memasak, montir, menjahit, elektronik, dan lain sebagainya. Hal ini juga memberikan kepercayaan diri kepada mereka dengan bekal skills yang sudah dimiliki dari hasil trainning. D. Persyaratan umur (Minimal 21 tahun) dan pendidikan yang memadai (Trainning) STOP mengirimi orang2 dibawah umur untuk bekerja ke luar negeri! E. Wanita menikah dilarang pergi bekerja diluar negri (dikhususkan karena anak) Ibu memegang peranan penting dalam sebuah keluarga (terutama pada psikologis anak). So, sejahterakan kaum ibu agar mereka tetap dirumah! Bisakah ini di realisasikan? Tentu bisa! Di buka sel2 otaknya jangan dibuka kantongnya! (Waktunya kepulau kapuk,hehehe) Nyiur Kelapa, DBLN, 23.45-180509

41 comments:

mrpsycho said...

dilematis ya mbak,kebanyakan TKI itu ya kerjanya jadi PRT,jadi nggak terlalu membutuhkan seleksi atau training..dan keterbatasan pengetahuan mereka yang sering dimanfaatkan banyak oknum

BIG SUGENG said...

Kalau yang sudah menikah kasihan anaknya dan juga anak mertua (uring2-an dan kelayapan)

Saya sebenarnya pingin juga jadi TKI, misalnya kerja di IMF, ADB atau PBB atau jadi Akuntan di Arab Saudi lho... cuma bahasa saya kacau balau

Anazkia said...

Tumben nih, saya menempati tempat ke tiga. komennya apa yah...??? mikir dulu mbak... ;))

Anazkia said...

F. Medikal di Indonesia harus di perbaiki sistem dan pelayanannya. Tak sedikit, ketika medikal di Indonesia sehat ternyata, setelah medikal lagi di negara tujuan mengidap suatu penyakit. Ini menjadi momok buat bangsa Indonesia, konon, orang Indonesia pada suka nipu kesehatan juga selain nipu umur. Mikirlagi.com

Anazkia said...

G. Adanya organisir untuk mengkoordinasi para tenaga2 kerja yang berada di luar negeri. Untuk memantau dan mengadakan kegiatan2 positif bagi para TKW/TKI di luar negeri. (ko gak nyambung.com yah...???)

H. Di ajarin internet, biar bisa curhat gratis sama Jeng Sri.

I. Insya Allah saya mo repiuw balik tilisan Jeng Sri.

J. Sekarang, saya mo kerja lagi. Insya Allah, nanti malam kita ngerumpi. hihihi...

BRI net said...

akankah semua bisa terwujud?

suwung said...

semoga sampean jadi mentri tenaga kerja mbak mbak amien amien amien

nietha said...

tapi biasanya justru ibu2 yang paling banyak mendaftar jadi tkw, dikarenakan pendapatan suaminya yang tidak mencukupi dinegeri sendiri

ADVINTRO said...

angel jeng, suer! waktu aku jadi presiden diminta ngurus itu. Para menteriku juga sampai pada mumet. Akhirnya dengan berat hati aku mengundurkan diri. Biar jadi rebutan ketiga pasangan itu deh

Seti@wan Dirgant@ra said...

Diajeng udah kepulau kapuk atau belon nih?
koq ngak sempat mampir.

Masalahnya emang terletak pada PJTKI baik yang legal maupun ilegal..... semuanya tidak selektif dalam mengirim kualitas ekspor ini.

Ada nggak yah diajeng lowongan kerja Guru di luar negeri?

Ivan@mobii said...

Wah,pemerintah mag masih uring2an nieh kalu d suruh kerja exstra. Tp ivan setuju ma point2 yg jengsri tulis... Setju bgt malah!

YolizZ said...

Jeng jd mentri dong,, pasti bs terlaksana tuh,, hehe...

Ayo dukung jeng sri jd menteri!! Hehe

Dunia Polar said...

kayaknya itu nggak mungkin trwujud deh cz setau aku, jumlah yg ilegal hampir menyamai yg legal. btw stuju sm yolizz, dukung jeng jadi menteri.he...

yanuar catur rastafara said...

didesa ku jeng,
rata-rata para TKI semua
apalagi yang muda-muda?keblinger dengan uang gajinya mungkin jeng
klu aku sich ogah jeng disuruh jd TKI
takut disiksa
heheheheeh

senoaji said...

Busuknya negara kita juga nyetelnya kayak gitu, jelas negara gak akan melepaskan laba yang luar biasa itu. jadi yang perlu dibubarkan dulu adalah Manajerial Indonesia atau kalo prlu Indonesianya skalian yang dibubarkan

Lyla said...

memang dilema bagi para TKI kita, tp kalo aku sih daripada kerja di luar negeri mending kerja di dalam negeri aja.

Penny said...

masalahnya sekarang yg harus diperangi adalah pengiriman TKI Ilegal ke luar negeri, mba.
ngga jauh2 ke Malaysia aja, kan banyak tuh yg ilegal via selat Malaka

Ari said...

Kayaknya lagi promosiin biar kedaut jadi Menteri nih.

Tapi cocok nih, Kritis....abis.

Ari said...

Tetapi Jeng, semua itu hanya untuk Ketenagakerjaan Luarnegerinya.

Yang Pokok sebenarnya ciptakan Lapakan kerja seluas-luasnya, dengan Upah Layak. Selesai.

Dan utk itu perlu Perombakan di segala bidang, Birokrasi Kebijakan tentang kemudahan Usaha, Perizinan dan tentu Insentif Usaha.

Tapi bisakah, Kering dong kantong Pejabat kaya Suwung. Tar gak bisa nyetrika duit lagi ( uang basah )

joe said...

sebenarnya kasihan para TKI, di luar negeri mereka mendapat perlakuan kurang manusiawi, sementara di dalam negeri sering diperas para petugas...

buwel said...

aku di belakangmu jeng...hehehehhee

kak_ega_punya cerita said...

wah ini kemaren baru ak bahas ma murid2ku tentang fak.prod tenaga kerja

masa ekspor terbesar kita adalah TKI... sedih nian ya...

kalo ak sih: mikirnya ke dalam negeri dulu: pelatihan buat tenaga kerja, tingkatkan UKM2 yang menghasilkan, kalo UKM kita maju, ga akan banyak TKW2 yang 'terhipnotis' ma bujuk rayu agen2 ilegal....mereka akan milih kerja di negeri sendiri....
seringnya yang dikirim ke luar kan justru yang ga terlatih dan terdidik...makanya banyak kejadian2 yang memilukan....

Itik Bali said...

Yang paling penting menurut saya sih
yang bisa menjadi TKW harus punya keahlian khusus
jangan disana hanya menjadi PRT saja

butang emas said...

SELASIH

Terdapat 35 jenis, di antaranya
Ocimum americanum
Ocimum basilicum
Ocimum campechianum
Ocimum gratissimum
Ocimum kilimandscharicum
Ocimum tenuiflorum

Selasih, tlasih, basil, atau basilikum (Ocimum) adalah segolongan terna yang dimanfaatkan daun, bunga, dan bijinya sebagai rempah-rempah serta penyegar (tonikum). Berbagai bagian tumbuhan ini berbau dan berasa khas, kadang-kadang berasa langu, harum, atau manis, tergantung kultivarnya. Beberapa di antaranya bahkan dapat membuat mabuk. Beberapa jenis selasih, misalnya kemangi, berasal dari Asia Tenggara, namun sebagian besar dianggap berasal dari anak benua India.

Bijinya (hitam dan kecil) direndam akan mengembang dan menjadi bahan campuran minuman yang segar2. dan bisa untuk menurunkan panas dalam.

Dinoe said...

ilmu pengetahun dan keahlian kayaknya harus dipersyaratkan..agar bisa bersaing dgn pekerja dari negara lain..

Sang Cerpenis bercerita said...

tumben postingannya serius, jeng.

suwung said...

semoga tercapai yang di tulis si jeng

Newsoul said...

Sorry telat mampir jeng, baru nyampe rumah. Nice posting, setuju sm pendapat jengSri. Kalau saja kita bs membenahi masalah ketenagakerjaan di dalam negri, mgungkin tdk perlu lg ada grusa-grusu masalah tkw ini.

IjoPunkJUtee said...

"PAHLAWAN", ungkapan kosong tuk menutupi penderitaan....Klo pahlawan, saat kembali ke tanah air bukannya karpet merah dihamparkan malah dijadikan korban pemalakan.....

Puspita Wulandari said...

Disinilah perlunya pembelajaran mimpi bagi generasi muda Indonesia, supaya sukses semua supaya ndak jadi TKW. Amin.

Salam kenal mbak.

reni said...

Besarnya harapan untuk "merubah nasib"lah yang membuat para wanita Indonesia nekad berangkat jadi TKW. Seandainya kesejahteraan dapat diraih di negeri sendiri ya ??

buwel said...

aku masih di belakang mu jeng...kekekeekkeekk

ajie said...

hidup tkw ah..
salam kenal yak....

quinie said...

ck ck ck... menjelang tidur kok bisa2nya posting serius kaya gini?... hebat jeng yang satu ini.... :)

Tukang komen said...

itulah dilemanya Jeng,kebanyakan para pencari tenaga kerja justru lebih suka ama yang unskilled worker. ikutan ke pulau kapuk ah... nemuin jeng Sri.. xi..xi..xi

Lala said...

Aku mendukungmu Jeng!!
Hidup Ibuuuuuu....

faizz said...

seyujuuuuuuuuuuuuuuuu, jeung, tapi yah kumaha? masih banyaknya kongkalikong antar oknum yang berwenang rasanya bukan pekerjaan mudah untuk mewujudkan nitan jeung sri. mudah2an blog dikau di kunjungi oleh bapak2 petinggi kiya yah, aminnnnnnnnnnnnnnn

RCO said...

Ada badan khusus yang mengelola TKI/TKW sampai ke daerah yang mencegah penyelewengan usia.

Banyak lo Jeng, pemalsuan KTP, Ijasah dsb. yang membuat si upik berusia 13 tahun jadi 21 tahun.

irmasenjaque said...

Semoga bisa terwujud y jeng...

ferdivolutions said...

mdh2n gag ada lagi nyawa2 yg tdk berdosa jd korbannya.. amiiin...

suryaden said...

sistem pencatatan kependudukan harus akurat, sehingga ketahuan mana yang belum bekerja dan sebagainya. Warganegara adalah aset negara, jadi kalo sampe ada yang mencelat ke luar negeri seharusnya sudah menjadi pertanyaan penting sekali, mengapa itu terjadi, mengapa harus ke luar negeri ketika ingin sejahtera, sudah tahu sendiri jawabannya saya kira ya...

 

JenG Sri Template by Ipietoon Blogger Template