30 Jun 2009

G A R U D A

Posted by Jeng Sri
"Tentu saja demi Merah PutihKu!" Kataku lantang kepada si tikus2 gendut dan botak itu. Ingin kuteriakan betapa najisnya dirimu dihadapan bendera favoritku yang terpampang dikantormu yang kelihatan super ekslusif itu. Nyatanya aku hanya berteriak dalam hati. Nyatanya aku hanya berani mengumpat dalam hati. Tentu saja ku tak berani melakukan itu, karena air mataku sudah hampir tak berbendung lagi. Suaraku sudah bergetar karena tidak tahan menahan amarah atas ulah tikus2 kotor itu. Dan tak ingin mereka menganggapku lemah tak berdaya. Siapa bilang aku lemah! Aku memang hanya perawan tua tak terjamah, tapi ingat aku bernilai atas nama kemerdekaan. Banyak darah yang tertumpah demi aku, banyak cinta yang memuja demi aku, dan banyak nyawa terenggut untuk aku. Si perawan tua ini sudah berumur memang, sudah tua di renta segala macam rintangan dan cobaan, tapi aku tak setua yang kau pikir, dan ingat aku masih perawan yang kukuh dalam nilai-nilai moral untuk membawa kembali orang-orang yang setia kepadaku. Jika kau tikus2 botak dan gendut adalah para penghianat abad kini yang mau melawanku, maka lupakanlah. Karena kau tak kan mampu merenggut apapun dariku. Lima perisaiku sudah tertanam dan berakar kuat dalam catatan darah yang tertumpah dan nyawa yang terenggut. Jika aku tak mampu terbang, itu bukan berarti aku lemah, jika aku tak mampu berkoak itu bukan berarti takut. Aku sedih, sedih untuk melawanmu. Bukankah kita lahir dalam kandungan pertiwi yang sama? Cinta Belum Usai, DBLN, 22.01-010709

34 comments:

Seti@wan Dirgant@Ra said...

tes...

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Sebuah metafora yang sangat bagus.

Mbah Guru Gunung Kidul said...

Diajeng,... Kapan sih balik? Aku jadi kepingin dapat bingkisan seperti Mbak Fanny

Anazkia said...

Atas nama birokrasi, mereka mengatsnamakn negeri juga membawa2 demokrasi. Eh, nyambung gak yah mbak...???

Turut prihatin dengan apa yang berlaku. Semoga Allah selalu menguatkan langkah-langkah Jeng Sri. Insya Allah...

Jeng, sama seperti pak Iwan, saya juga mau dunk dapet bingkisan hehehe... habis ini, Jeng Sri bangkrut di mintain bingkisan ama temen2 bloger wekekeke..

Anazkia said...

jeng, tentang sumbangan itu, Insya Allah nanti saya kirim. Dan tentang kata2, sedekah... sedekah... saya emang suka ngomong githu jeng, wekekeke... kalau ngelihat fs saya, ada juga kata2 itu di bawah foto :)

Aishalife-line said...

semangat jeng.

Aishalife-line said...

Owh, iya ada award dariku, senang sekali kalau anda ambil jeng :)

Ivan@mobii said...

"Merdeka jeng"

BIG SUGENG said...

Kalau temen2 blogger minta bigkisan, kirimin saja gambarnya....

Eh... JengSri lagi marah sama siapa sih... nanti saya bantuin marahnya.... biar si botak ketemu si gendut... pasti takut......

Henny Y.Caprestya said...

merdeka mbak!
merdekaaaa!!!

Linda Belle said...

jenggggg....
kangen padamu, ud seminggu gak ngeblog nih hehehe...
aku baca lg deh tulisannya

YolizZ said...

merdeka!!! merdeka!!!

kapan pulangnya sih??

Cebong Ipiet said...

mbak eee semakin keren ajah... malah jadi blog puici ya ihihiih

rusli zainal sang visioner said...

"lima perisaiku sudah tertanam dan berakar kuat dalam catatan darah yang tertumpah dan nyawa yang terenggut" 5 perisai maksudnya apa ya? *bingung*

Tukang komen said...

wah...wah... semakin menyentuh nih ... makin cinta tanah air meski di negeri orang,....

Warung-Juice said...

test

Warung-Juice said...

aku sudah taruh bendera di depan jendela kamar ku biar tambah mantap meski di terjang thunderstom dan hujan lebat kemarin- merdeka

Tukang komen said...

Btw... aku ada FB kok jeng...

JengSri said...

depan kamar neh?
clontarf apa sandymount?
wkwkwkwkkkkkk

genial said...

merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka
membinasakan penidas dari negeri tercinta
indonesia
menatap
merah putih adalah bergolaknya darah
demi membela kebenaran dan azasi manusia
menumpas segala penjajahan
di atas bumi pertiwi
menatap
merah putih adalah kebebasan

attayaya said...

garuda didadaku
merah putih menyelimutiku
merah darahku
putih hatiku

wah ga nyambung neh komenku

rco said...

Garuda sedang membawa beban berat, Ya Mbak?

Tapi BTW aku juga mulai botak... gimana nih?

Prof said...

Garuda masih terpatri kukuh di hati.....

Anonymous said...

Garudaku, garudamu....
kini tak lebih..
Burung Emprit..kecil
Menatap Nanar.
Sengaja ia dikerdilkan, agar besar ia sang buncit berdasi pedang.
Sengaja ia dipasung, agar lantang ia penyambung Lidah bermulut lebar.
Sengaja ia di congok, agar bebas ia pengatur bidak bertangan panjang.

Tukang komen said...

FBnya : xotri4th@yahoo.co.id disearch aja yah pake e-mail itu, tar kan ketemu.

ranny said...

terharu sayah baca neh postingan..sungguh nasionalis dan idealis ditengah2 lingkungan yang hedoniss..
sangad keren paragraf ketiga itu huhuh masih bisa mempertahankan sesuatu yang berharga ditengah arus globalisasi, westernisasi, hedonis yang merajai neh planet :) keep it mbakk!!!
*heran dengan coment sayah ini hihihh
salam kenal mbak..selamad hari kamis ^^

Newsoul said...

Garuda dan perawan tua, metafora yg agak sedih. Jeng saya lebih suka menggunakan kalimat garuda dan bidadari yang terluka, lebih pas, swear....hehe.

aldrix said...

ane ikutan ja dah.. y genep yang ke 28... semoga garuda selalu menjadi symbol negara kita .. amienn

Fanda said...

Cinta belum usai! Jeng, kok mendekati 17-an jadi semakin garang gini?

sibaho way said...

hajar jeng!!

Ariyanti said...

Jeng, untuk menghibur dirimu, daku berikan award, ditengok yaa :)

RanggaGoBloG said...

mbak ambil oleh oleh di kandangku iaah....

Sang Cerpenis bercerita said...

tikus gundul? hmm....perumpamaan yg mantap.

black_id said...

wah wah wah...Demi merah putih ya Jeng,

disaat tikus2 mengorbankan sang merah putih demi perutnya yang buncit dan kepalanya yang botak,

JengSri masih kukuh mengorbankan segalanya demi Sang Merah Putih, luar biasa

 

JengSRI's BloG Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Make Money from Zazzle|web hosting