Bedah Indonesia Versi JengSRI (1)

Sunday, August 02, 2009 JS Hanniffy 0 Comments

Mungkin jika kita berada di Indonesia, krisis moneter yang terjadi sejak tahun 2008 hingga saat ini tidaklah begitu terasa, disebabkan kebiasaan hidup mayoritas masyarkat yang biasa2 saja (bagi yang datang dari kalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah). Melihat bentuk perekonomian Indonesia yang berbentuk piramid; yang diartikan sebagai ujungnya piramid digambarkan untuk kalangan orang2 menengah keatas, dan selanjutnya adalah kalangan ekomoni tidak pas, alias kekurangan. Beda sekali dengan bentuk piramid perekonomian di negara2 kaya Eropa, Amerika Asia (Jepang dan Brunai), Australia dan South Afrika. Bentuk piramid perekonomian negara2 kaya yang disebutkan diatas kebalikan daripada bentuk piramid perekonomian di Indonesia. Kalau analisa menurut paham saya yang tentunya awam tentang dunia perekonomian, maka akan mengartikan perbedaan piramid tersebut sebagai berikut: 1. Indonesia - Piramid dengan posisi yang sebenarnya: Sisi datar dibawah piramid menggambarkan masyarakat miskin, dan ujungya menggambarkan masyarakat yang berkecukupan. 2. Negara2 EU, Amerika, Australia, Jepang, Brunai, South Afrika - posisi piramid terbalik: Sisi datar dibawah menggambarkan masyarakat berekonomi cukup, sementara ujungnya menggambarkan masyarkat berekonomi lemah. Perbedaan ini tentunya nampak sekali jika digambarkan dalam bentuk statistik diagram. Bersyukurnya Indonesia mempunya SDA yang sangat kaya yang bisa dijadikan nilai jual bagi perkembangan perkenomian di Indonesia. SDA yang mempunyai daya jual yang tinggi di pasaran international ini hampir 100 % dimiliki oleh kebanyakan rakyat yang berekonomi lemah. Hal yang seharusnya menjadi tameng bagi mereka untuk mengembangkan industri mereka (secara khusus), sayangnya justru dimanfaatkan oleh2 pihak2 'raksasa' yang haus akan keuntungan sendiri. Jika ini bisa diperhatikan dengan baik oleh instansi2 yang terkait, maka industri2 kecil pemilik SDA ini akan ikut maju berkembang bersama. Jika seluruh orang yang hidup di Indonesia tahu, betapa bersyukurnya mereka dapat hidup dan tinggal dinegara yang sebenarnya super kaya dan makmur (baca: Indonesia), dan jika instansi2 yang bertanggung jawab ini di kelolah oleh orang2 yang serius, jujur dan disiplin, saya yakin tidak akan ada satu WNIpun yang sudi meninggalkan Indonesia hanya demi sebuah pekerjaan sebagai pembantu. Mengapa begitu? Ada sebuah pertanyaan, mana yang lebih penting SDA (Sumber Daya Alam) atau SDM (Sumber Daya Manusia? jika ini ditanyakan kepada saya sebagai mentri perekonomian, tentunya saya akan menjawab: SDM. Mengapa demikian? Saya akan mengambil contoh sejarah Ireland sebagai negara yang mempunyai catatan hitam, baik dalam sejarah kolonial Inggris selama 800 tahun lebih, dan great Famine yang terjadi 200 tahun yang lalu yang menyebabkan 1 juta orang lebih mati kelaparan. Jangan anda bayangkan bahwa Ireland adalah negara besar, Ireland hanyalah negara kecil yang berpenduduk kurang lebih dari 4 juta penduduk. Great Famine terjadi karena tidak adanya makanan yang dapat di makan oleh penduduk. Bahan pokok makanan (Kentang) ini tidak dapat tumbuh di Ireland, yang dikarenakan cuaca buruk yang ada. Ireland mempunyai 4 musim, dimusim dingin biasanya musim yang paling berat bagi para peternak hewan dan penggarap sayur2an. Hanya beberapa jenis tanaman tertentu yang dapat tumbuh di Ireland, ini dikarenakan matahari yang hanya datang setahun sekali selama 3 bulan; dan itupun jika cuaca bagus di musim sumer. Jadi jangan anda bayangkan bahwa Ireland mempunyai banyak sayur2an, tumbuh2an dan hewan seperti di Indonesia. Bisa di bayangkan kepedihan negara kecil seperti Ireland dimasa lalu?, tidak ada SDA yang mampu menyokong rakyat Ireland untuk hidup di tanah airnya, hingga menyebabkan banyak yang mati kelaparan. Hebatnya semuanya itu tinggallah sebuah sejarah. Meskipun kini Ireland diterpa krisis ekonomi yang menghantam berbagai lapisan masyarakat dan industri perekonomian bisnis, pemerintah dan masyarakat yakin 100 % bahwa Ireland akan kembali pada perekonomian yang semula. Jika orang2 serius di pemerintahan Ireland ini dulu mampu mengangkat rakyat yang mati kelaparan menjadi kaya raya, merekapun percaya krisis ekonomi yang dibilang dahsyat ini, tidak ada apa2nya dibandingkan dengan catatan pedih Great Famine di masa silam. Nyatanya saya menjadi paham apa maksud dari lirik yang di ciptakan oleh WR Supratman yang berbunyi: Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya. Untuk membangun negeri bangkit dari keterpurukan adalah dengan cara membersihkan diri dari penyakit yang bernama AIDS - Angkuh Iri Dengki Serakah. Jika mampu bangsa kita bisa belajar dari masa silam, dan memiliki orang2 serius, jujur dan di siplin yang menjadi para pemerhati rakyat ini untuk mengurus SDA yang lebih bernilai dari yang bernama triliyun ini, tentu tak akan ada berita tentang TKW yang tersiksa dinegeri orang. Sayang seribu sayang, ternyata SDA di Indonesia yang lebih bernilai dari triluyanan dollar dan euro ini tidak mampu membangkitkan rakyat kelaparan memiliki makanan, rakyat buta huruf menjadi membaca, rakyat pintar pergi kesekolah. SDA milyaran dollar dan euro ini hanya di miliki si pencatat, si penego, si mucikari, yang kemudian menghasilkan bangunan2 mewah yang tak jelas. Tak jelas bagi si petani, tak jelas bagi si peternak. Namun yang jelas bagi mereka adalah: Hidup mereka tak berubah. DBLN, 21.09-010809

0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds