Buku VS Film (Laskar Pelangi) - Part 1

Thursday, August 06, 2009 JS Hanniffy 1 Comments

Akhir2 ini aku lagi gila menumpahkan seribu emosi dalam sebuah tulisan dan bacaan buku. Dalam waktu 12 hari aku sudah melahap 4 buku yang bukunya lumayan tebal. Berterimakasih sekali kepada BlogSpot yang telah memberikan account cuma2 untuk ajang belajar tulis menulis ini. 

Aku sudah tidak perduli lagi dengan banyaknya komentar atau dengan traffic yang menjulang dan merosot. Bahkan kalau tidak ada yang membaca sekalipun tulisanku ini. Aku tidak perduli. Aku hanya ingin menulis. TITIK. Melalui postingan kali ini, aku juga ingin minta maaf kepada Om Sugeng

Aku yakin Om Sugeng tidak tahu bahwa blog JengSRI.Com ini sudah di tutup untuk komentar. Jadi mohon Om Sugeng jangan berkecil hati karena menganggap aku tidak memilih Om sebagai member. Tidak ada satupun member di blog ini yang aku pilih untuk berkomentar di blog ini. 

Hal ini sudah pernah kuposting sebelumnya. Mohon maaf yang sedalam-dalamnya kepada Om Sugeng dan kepada sahabat bloggers yang membaca blogku. Kembali ke Laskar Pelangi, Aku sudah mendengar buku Laskar Pelangi dari beberapa sahabat di London sebelumnya. Katanya bagus, katanya menarik. Tapi jujur, aku tetap mencemoohkan buku karya Indonesia, apalagi kalau itu novel (harap jangan ditiru tindakan yang melanggar UUD perkaryaan ini). 

Karena kebanyakan buku fiksi Indonesia sejak jaman sembilan puluhan berkategori picisan yang sekedar berbau romansa. Aku jadi anti karya buku fiksi Indonesia sejak masa remaja. Saat pulang ke Indonesia tahun 2008, Abangku 
mengkritikku (yang katanya) aku sudah melupakan karya2 buatan Indonesia. 

Tentunya hal itu aku sanggah, jika memang ada karya yang bagus kenapa tidak disukai. Aku hanya akan membaca, membeli, mengambil dan menyimpan karya2 yang patut diberikan point yang membanggakan (Jangan ditiru lagi sikap ini). Lalu Abangku membelikan aku sebuah buku berjudul Laskar Pelangi, dengan mengatakan: "Coba baca buku ini". 

Melihat cover dan judul serta beberapa kata2 didepannya saja aku sudah sangat tidak bergairah. Buku ini diberikan pada bulan Oktober tahun 2008 dan baru di sentuh untuk dibaca semingu yang lalu. Aku sempat ingin memberikan buku ini (tanpa lebih dulu membacanya) kepada seorang sahabat Indonesia yang tinggal di Ireland. Jika aku tidak menikah, mungkin aku akan menjadi orang yang sangat menyesal karena tidak membaca buku ini. 

Suamiku menyarankan untuk membaca Laskar Pelangi dengan alasan: "Terkadang meskipun seorang penulis yang datang bukan dari bidang sastra, kalau dia memiliki penulisan narasi yang bagus bukunya akan enak dibaca". Berangkat dari pendapat suamiku itu, akupun memulai menyentuh buku yang sudah tergeletak merana diantara himpitan buku2 yang lain selama 8 bulan. Malas bukan main waktu memulai paragraf pertama. 

Aku sudah mengatakan dalam hati jika buku ini tidak bagus akan langsung kuhentikan dan aku berikan kepada sahabatku itu. Seribu kejutan tak disangka. Ternyata Bab pertama sudah membuat aku langsung jatuh cinta. Buku Laskar Pelangi adalah buku berbahasa Indonesia ke dua yang aku miliki setelah Al-quran dengan terjemahan artinya. 

Dan suamikupun harus tersenyum (dan terganggu) karena 'keonaran' yang kutimbulkan akibat buku Laskar Pelangi ini dan tentunya tersenyum karena anggapanku yang 100% salah tentang buku ini. Karena buku ini sering aku baca menjelang di pagi hari saat bangun tidur dan sebelum tidur, maka suamiku harus rela tersiksa mendengar tawaku yang terpingkal-pingkal karena tulisan si Andrea yang sederhana nan lucu ini. 

Apalagi saat si Ikal mendeskripsikan keadaan Bu Mus sang Ibunda Guru tercintanya dengan make upnya. Dibuatnya aku tertawa menungging2 ditempat tidur. Setiap huruf yang tertulis di Laskar Pelangi tak pernah luput dari mataku. 
Aku terbius oleh setiap narasi yang dituliskan oleh Andrea, hingga membawaku kepada kisahnya. Aku malu mengakui ini, tapi akan kukatakan. Aku menangis saat membaca bab 30 Elvis Left The Building. Syukurnya suamiku tak ada saat itu, kalau tidak tak terbendung lagi rasa maluku. Pasti dia akan sibuk mengambil tisyu untukku karena tangisku ini sudah seperti tak normal. 

Andrea mampu membawaku ke dalam kegembiraanya, kesedihannya, bahkan saat ia patah hati dengan si A Ling. 

Aku begitu patah hatinya pula. Akupun ikut memaki, membenci ketidak adilan pada negri ini. Membenci karena Lintang yang jenius tidak bisa melanjutkan sekolah karena harus bekerja demi keluarga. 

Tak dapat kutahan airmataku saat kubaca surat Lintang kepada Ibunda gurunya yang mengatakan: "Ibunda Guru, Ayahku telah meninggal, besok aku akan sekolah. Salam, Lintang". Dahsyat sekali memang Andrea menulisnya, sampai2 akupun merasakan sakit hatinya saat dia kehilangan Lintang sahabat hidupnya. Kadang aku berpikir, mungkin aku yang terlalu sensitif terhadap sesuatu yang kulihat dan kurasakan. 

Tapi itulah aku. Si sensitif. 

Meskipun kutulis sambung menyambung tentang Laskar Pelangi, itu tak akan cukup menggambarkan kedahsyatan dari buku itu. Seribu petualangan masa kecilnya, keindahan Pulau Belitong, Ajaran tentang cinta kasih, budaya melayu yang sederhana, semua berbaur dalam tulisan yang sederhana namun penuh akan penjelasan sebuah ilmu dari segala aspek kehidupan dan ilmiah. To be Continued.... 

DBLN, 10.48-060809

1 comment:

  1. membaca buku ini memang bikin terpingkal-pingkal sejadi-jadinya dan bikin menitikan air mata, ikut sedih, se-sedih-sedihnya. turut seneng jika akhirnya ada buku lain berbahasa Indonesia, karangan orang Indonesia, tentang sekelumint kisah di Indonesia...

    ReplyDelete

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds