Buku VS Film (Laskar Pelangi) - Part 2

Saturday, August 08, 2009 JS Hanniffy 0 Comments

Jika kita kehilangan sebuah inspirasi untuk membuat sebuah karya atau tulisan, pasti karena inspirasi itu hilang dari kehidupan kita. Tapi aku justru sebaliknya. Aku mencoba menghilangkan sebuah inspirasi yang biasanya datang menghampiriku pagi, siang dan malam (jangan ditiru sikap ini). 

Menulis ternyata menjadi obat untuk diriku, bahkan disaat kita ingin menghilangkan inspirasi itu sendiri, kita justru mendapatkan inspirasi. Karena hati yang sudah diniatkan ingin menghilangkan inspirasi itu, otakkupun menjadi beku alias macet untuk menuliskan sebuah puisi. Padahal aku sangat suka menulis sebuah puisi. Kebekuan itu karena aku sedang mencoba mengubur dalam2 bintang inspirasiku. Namun seorang bijak teman hidupku mengatakan: "Jadikan itu sebuah inspirasi. Jangan mencoba untuk menghindarinya. Hadapi saja". 

Menurutku inspirasi bisa lahir dari mana saja dan kapan saja dari siapa saja. Seperti halnya inspirasi Laskar Pelangi versi Andrea Hirata. Setelah selesai membaca Laskar Pelangi, akupun jadi teringat sebuah buku karangan Frank McCourt, yaitu seorang penulis asal dari Irlandia. Buku Laskar Pelangi mempunyai kemiripan dengan buku karangan Frank McCourt yang berjudul Angela's Ashes yang diterbitkan pada tahun 1996. Buku ini mengisahkan tentang kehidupan Frank sejak tahun 1930 hingga 2009. 

Judul dari buku itu sendiri diambil dari nama ibunya Frank yaitu Angela's Ashes. Frank mengisahkan pula tentang kehidupannya yang sangat sulit dimasa kanak2nya yang ketika itu perekonomian di Ireland masih sangat miskin. Ia juga menuliskan tentang kehidupan umat Katholik yang religious di Irlandia serta kepedihan hatinya saat ditinggal mati seorang wanita yang baru saja membuatnya jatuh cinta. Buku Laskar Pelangi karya Andrea ini, dari segala kisah mirip sekali dengan buku Angela's Ashes karya Frank McCourt. 

Ada kemungkinan Andrea mendapatkan inspirasi dari buku Frank McCourt, karena berdasarkan autobiography di buku Laskar Pelangi, Andrea merupakan lulusan S2 dari salah satu universitas di Inggris. Apapun itu, aku menyukai buku karangan keduanya. Dan salut untuk Andrea yang mampu menuliskan kisah kehidupannya dalam sebuah buku hingga sedemikian rupa. Seperti halnya Angela's Ashes yang sukses dengan bukunya sampai akhirnya ada produser yang meilirik buku ini untuk dibuat film dengan judul yang sama dengan bukunya. Laskar Pelangipun setelah sukses dengan bukunya, tak lama kemudian filmnyapun muncul. 

Sayangnya, hampir rata2 semua film2 yang diambil dari buku nyatanya tidak sebagus bukunya. Bagi yang sudah membaca buku Laskar Pelangi mungkin akan sedikit kecewa setelah menonton filmnya. Aku hanya berpendapat, jika film ini dibuat oleh produser seperti Steven Spielberg mungkin akan menjadi film yang spektakuler. Pasalnya, seribu perasaan yang menggugah pembaca yang dituliskan oleh Andrea ini tidak satupun terimplementa si di filmnya. Beberapa karakter yang bermain di filmnyapun tidak diambil secara tepat sesuai dengan karakter Laskar Pelangi Sekawan. 

Satu2nya karakter di film Laskar Pelangi yang 60 % seperti ada dalam buku hanyalah Mahar dan Pak Harun. Lainnya meleset 100 %. Kisah dalam film itu sendiri di lompat2 seperti bunglon. Mungkin sebagian penonton yang belum membaca tidak akan mengerti apa keseluruhan isi yang disampaikan dari film Laskar Pelangi itu. Seperti saat si Flo menghilang sembunyi di sebuah sungai yang dipenuhi monyet hutan dan buaya hanya untuk mengukur keberanian dirinya, dan Laskar Pelangi sekawan khususnya Mahar membantu untuk menemukan Flo.

Dalam imaginasiku saja sudah tergambar bagaimana menyeramkannya keadaan hutan itu, dan bagaimana kagetnya saat Flo mengagetkan Laskar Pelangi Sekawan diatas pohon sedang bergelantungan seperti monyet. Film Laskar Pelangi benar2 tidak sebanding dengan bukunya. Dan aku benar2 kecewa. Mungkin satu2nya pengobat kecewaku adalah saat Bu Mus dan Laskar Pelangi
 Sekawan berada diantara batu2 besar disebuah pantai dengan pemandangan pelangi. Pemandangan ini mengingatkan aku pada sebuah pantai di Kho Phi Phi yang berada di Thailand. 

Intinya, aku sangat berterimakasih kepada Abangku yang sudah memberiku hadiah buku berbahasa Indonesia ini. Buku ini memberiku semangat baru dan keinginanan baru diantara catatan2 'My Dreams'. Salah satu mimpiku adalah pergi ke Tanah Melayu nun jauh disana. (End) 

 DBLN, 15.27-080809

0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds