Butang Emas - Warisan Budaya Melayu (1)

Monday, August 10, 2009 JS Hanniffy 0 Comments

Jatuh cinta pada budaya negeri sendiri adalah sesuatu hal yang patut dibanggakan. Terlebih jika kita berada dirantau. Selama berada di rantau, justru saya tertarik ingin mempelajari seribu budaya Indonesia. Hal ini dikarenakan budaya barat yang sangat bertentangan dengan budaya yang telah membentuk kepribadian saya sejak kecil hingga dewasa. 

Atas hal itu, tak jarang saya di hujani seribu pertanyaan oleh teman2 Eropa saya tentang hal2 yang tidak akan saya lakukan dan yang saya lakukan. Dikarenakan saya berada di sebuah negara yang berbeda keyakinan akidah dengan saya, maka saya menjelaskannya menurut versi budaya timur atau dari segi kesehatan badan dan gaya hidup versi warisan dari ibu saya. 

Dan tentunya saya akan menjelaskan sedikit bahwa hal itu bertentangan dengan keyakinan yang saya anut. Saya tidak menjelaskan secara detail dari versi agama jika saya tak ditanya, tapi saya lebih suka menjelaskan secara universal dari segi budaya orang timur. Menurut saya sikap ini lebih terbuka secara umum dan lebih bijaksana jika kita berbicara dengan orang yang berbeda latar belakang budaya, agama dan sosial. 

Membahas tentang budaya di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya karena banyaknya aneka ragam budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Saya semakin jatuh cinta dengan aneka budaya Indonesia justru saat saya berada di rantau. Saya sendiri tidak pernah mengira sebelumnya bahwa orang2 barat tertarik untuk mempelajari budaya2 dari negara lain. 

Atas dasar inilah saya termotivasi untuk bisa berpartisipasi mengenalkan budaya Indonesia di belahan Eropa Barat. Semakin tertarik saat saya menjadi model pada sebuah event fashion show di Festival World Of Culture pada tahun 2004 di Ireland. Fashion show ini bertema International Wedding Dress yang event tersebut sekaligus meluncurkan pengeluaran prangko baru yang di khususkan untuk wedding prangko. 

Dari event tersebut saya jadi bisa melihat minat orang Eropa Barat yang ingin mengetahui budaya dari berbagai negara. Ada pepatah mengatakan bahwa budaya mencerminkan suatu bangsa. Sayapun jadi mengambil sebuah pandangan dari simbol kalimat yang tertulis pada Garuda Pancasila yaitu Bhineka Tunggal Ika yang diartikan berbeda-beda tetapi satu juga. 

Mungkin inilah yang menggagasi penamaan Bhineka Tunggal Ika, yaitu karena banyaknya kultur di tanah air ini. Bagaimanapun itu, ternyata makna dari Bhineka Tunggal Ika mencerminkan persatuan dari seluruh budaya yang ada di Indonesia. 
 Salah satu yang memotivasi saya untuk mempelajari budaya Indonesia adalah Budaya Melayu. Semakin tertarik saat saya mulai membaca buku yang berisi tentang warisan budaya melayu, yaitu buku Butang Emas. Awalnya saya berniat membahas ini dalam blog saya yang lain yang saya khususkan ditulis dalam bahasa Inggris yaitu An Indonesian Woman's Diary, karena saya ingin bukan hanya orang Indonesia yang dapat membaca blog saya namun dunia luar dapat mengenal budaya Indonesia lebih dekat melalui blog saya. 

Buku Butang Emas yang masih saya baca ini digagasi oleh seorang almarhum tetuah dari Riau bernama Mochtar Zam. Saya belum mengetahui persis profile tentang almarhum (karena saya belum selesai membaca buku yang berhalaman hampir 1000 halaman ini), namun saya yakin bahwa beliau adalah seorang yang mempunyai nilai seni tinggi atas budaya melayu karena menurut informasi yang 
tertulis dibuku Butang Emas beliau adalah pengasuh tari kesenian budaya melayu di Riau pada era tahun 1950-an, dan atas gagasan terciptanya kitab yang berisi warisan budaya melayu kepulauan Riau ini, tentunya beliau adalah seseorang yang di petinggikan atas kebudayaan dan kultur Kepulauan Riau. 

Saya pribadi lebih suka menyebut Butang Emas ini sebagai sebuah kitab daripada buku. Entah kata kitab mempunyai pengertian yang sama secara harfiah dengan buku dalam bahasa melayu atau tidak, namun hampir para pengantar isi kitab Butang Emas menyebutkan KITAB pada Butang Emas daripada buku. Apapun itu, Kitab Butang Emas yang berasal dari negri gurindam ini adalah layaknya sebuah kitab suci yang memberikan informasi nilai2 luhur dan larangan2 dalam budaya melayu secara hystoric dari jaman ke jaman.

DBLN, 21.34-090809

0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds