Butang Emas - Warisan Budaya Melayu (2)

Friday, August 14, 2009 JS Hanniffy 0 Comments

Kitab Butang Emas ini saya dapatkan dari seorang kawan di Sumatera. Ketertarikan saya awalnya karena postingannya mengenai tentang masakan2. Membaca resep2nya mengingatkan saya pada masakan ibu saya dirumah. Dan saya sendiri merasa tidak asing dengan resep2 masakan yang ditulisnya itu.

Disamping itu, resep2 masakan tersebut seperti masakan2 yang bercampur dari negara lain namun resep tersebut asli turun temurun. Seperti pada Penggalan 11 halaman 394 yang nama masakan dan penyajian bumbu tersebut mirip seperti nama masakan India yaitu Buriani. 

Mungkin disebabkan karena banyaknya pergantian suku ke tanah melayu yang datang bergantian seperti yang ditulisan dalam Penggalan Pertama halaman 8 dalam kitab Butang Emas. Lebih jelasnya lagi mengenai itu di tuliskan dalam Penggalan ke 14 halaman 546 di kitab Butang Emas tentang adanya sejarah kedatangan sekelompok suku India Selatan yang datang ke tanah melayu dengan membawa pertunjukaan kesenian dari asal negaranya. 

Yang hingga kini pertunjukkan tersebut disebut sebagai Wayang Bangsawan oleh masyarakat melayu. Membaca sejarah tentang Melayu yang tak asing ini, sayapun jadi mengerti mengapa bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa persatuan Indonesia. 

Gara2 membaca kitab Butang Emas ini saya jadi tahu tentang sejarah penggunaan atas lahirnya bahasa Indonesia. Bahwasannya pencetusan Sumpah 

Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 telah menetapkan Melayu Riau dialek kepulauan Riau sebagai bahasa Indonesia. Luar biasa. 

Dan ternyata bahasa melayu mempunyai pengaruh besar dari segala segi aspek tingkat kehidupan sosial baik para petinggi maupun masyarakat, bahkan bahasa melayu telah menjadi bahasa penghubung di jajaran negara2 asia tenggara. 

Hingga kemudian bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pergerakan nasional yang dapat menguatkan Indonesia merenggut kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Kitab ini juga mengingatkan masa saat dimana saya masih duduk dibangku SD, yang saat itu sedang gemar2nya belajar berpantun. 

Bahasa melayu palinglah indah untuk dijadikan sebuah pantun dan memang 
sepatutnyalah tanah melayu ini dinamakan sebagai Negri Gurindam. 

Kepandaian orang2 melayu yang mengolah kata dengan syair memang tiada 
duanya, bahkan konon melalui pantun itulah yang menyatakan tabiat, pikiran dan perasaan orang melayu (Penggalan ke-14 hal 628). 

Semua bab dalam kitab Butang Emas sangat menarik perhatian saya. Kitab ini lengkap tertulis secara gamblang mengenai aspek kehidupan dari hal yang paling sederhana seperti membuat prakarya seperti yang kita lakukan saat masih duduk dibangku SD, hingga catatan sejarah Melayu dan kekaitannya dengan budaya lain yang ada di Indonesia bahkan negara2 lainnya telah ditulis secara terperinci. 

Membaca dan mereview buku ini tidak akan cukup membuat saya puas. Karena kitab ini menggerakkan bagi si pembaca, khususnya orang melayu untuk mempertahankan dan mewujudkan warisan melayu yang telah berperang melawan gilasan masa. 
Membaca kitab Butang Emas ini serasa membawa diri kita pada masa demi masa yang hanya mampu kita bayangkan, dan bahwa kehidupan adalah sebuah tata krama yang harus dijaga senantiasa sepanjang jaman. 

Saya yakin bahwa penggagasan atas tertulisnya kitab ini bukanlah hanya sekedar tulisan mengenai sejarah atau adat istiadat Melayu, namun juga memberikan sebuah peringatan kepada generasi penerus untuk tetap menjaga nilai2 luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang. 

Mungkin juga kitab ini adalah sebagai sebuah perwujudan kata daripada perkataan Laksemana Hang Tuah yaitu;" Esa hilang dua terbilang, Tak akan Melayu hilang di bumi". 

-END- DBLN, 19.02-130809

0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds