Tak Akan Indonesia Hilang Di Bumi

Wednesday, August 26, 2009 JS Hanniffy 8 Comments

Judul diatas mengcopy pantun bijak dari Laksemana Hang Tuah dan merubahnya sedikit. Kembali menulis berarti ada yang sesuatu yang membuat diri resah. 

Postingan ini sebenarnya sebuah komentar yang tadinya mau saya tulis di blognya abang, berhubung ikutan greget dan pastinya komen saya jadi panjang, sehingga menimbulkan ide dan memutuskan mau nulis tentang 'pencurian' budaya Indonesia. 

Kejadiannya terjadi tahun 2008, saya dikagetkan oleh salah satu iklan TV pariwisata di Ireland yang berjudul Malingsia. Saya tidak begitu memperhatikan namanya, namun yang saya perhatikan adalah iklan yang terdiri dari semua budaya Indonesia, sayapun berteriak kegirangan karena tentunya saya bangga bahwa budaya Indonesia sudah benar2 Go International. 

Namun begitu di iklan tersebut mengatakan "Visit Malaysia 2008", sayapun mengeritkan dahi, "What?, Malaysia?, Are you kidding me?!" Oh, rupanya Si Malingsia sedang melakukan gerilya untuk ke-famous-an negaranya toh. 

Tidak heran budaya Indonesia di klainm sebagai miliknya, karena selama ini Indonesia tidak pernah melakukan gerilya pariwisata secara besar2an. Ya mungkin karena dirasakan tidak perlu. 

Lha wong si Bule sudah mengerti bahwa Indonesia adalah tempat dimana keindahan surga keajaiban dunia diciptakan seperti, Bali, Lombok, Pulau Komodo, Danau Toba, Danau Limboto di Gorontalo, Borobudur, Kepulauan Seribu, Krakatau, mungkin para bloggers yang lain bisa menyebutkan nama daerah pariwasata ditempat kalian? Dari sabang sampai Merauke, dari Kutub Utara sampai Kutub Selatan Bumi, tentu saja setiap manusia yang pernah berkunjung ke Indonesia saat menonton iklan TV tersebut akan mengatakan sama "That is Indonesia, Not Malaysia!". 

Hal yang sama terjadi saat saya sedang berkunjung ke Thailand di Kho Samui salah satu pulau di Thailand. Saat itu saya sedang melakukan travel di sebuah tempat bernama Lamai di Koh Samui, saat saya melihat salah satu toko yang menjual kain batik saya langsung masuk, dan tentunya sambil bepikir "Wah batik solo nyampe juga nih ke tempat terpecil di Thailand". 

Sedang asyiknya melihat batik2 yang dipajang, seorang pegawai menyapaku "Do you like batik?", Sayapun menjawab "Absolutely". Namun saya menjadi terkejut saat sang pegawai mengatakan "This batik is from Malaysia". Aku segera menjawab "No, this batik is from Indonesia, You see what is made from? (sambil menunjukkan made in Solo pada kain batik tersebut) This is made from Solo and, Solo is in Indonesia". 

Ternyata kejadian itu bukan hanya di Thailand saja terjadi tapi sampai ke Eropa juga. Saya pribadi tidak perlu terlalu melakukan adu urat untuk beragumentasi dengan pegawai toko tersebut, apalagi kalau memang mereka tidak mengerti budaya Indonesia maupun bagaimana bentuk daripada peta Indonesia. 

Buang2 energi saja. Dunia international sudah mengenal Indonesia sebagai A Very Huge Country. Mau diambil atau di klaim satu atau seribu budaya Indonesia, tetap dunia melihatnya bahwa itu adalah budaya Indonesia. Mau pake hak paten atau hak asasi kebudayaan, tetap si Robert dan si Fulan yang pernah ke Bali akan mengatakan kalau Tari Pendet dari Bali. 

Tak ada satupun turis international saat pergi ke Malaysia melihat kebudayaan Malaysia yang digembor2kan dalam iklan TV di Eropa ada di Malaysia. Tentu saja tak ada, karena itu semua berasal dari Indonesia. 

Malahan yang ada di Malaysia hanyalah campuran budaya dari masing2 kultur dari negara Asia Tenggara yang hidup secara berkelompok seperti China dan India yang bisa dilihat di daerah Penang Malaysia. 

Menyedihkan lagi, Malaysia pernah menampilkan pakaian pengantin adat Riau Melayu yang pernah saya lihat dalam Buku Butang Emas dalam acara pentas budaya international di Ireland. Masalah budaya, tentu saja Malaysia tidak ada 'seupil'pun dari Indonesia. 

Sekali lagi saya dan negara di belahan manapun akan mengatakan bahwa Indonesia Is A Huge Country, dan dunia mengklaim itu, geographic mengklaim itu, seluruh orang pintar dan bodoh mengerti bahwa Indonesia is the biggest archipelago in the world. 

Seribu budaya lahir di negara bernama Indonesia, sejuta bahasa lahir dari negara bernama Indonesia, dan sejuta Sumber Daya Alam ada di Indonesia. Dan dunia tahu itu. Di sini, di Negeri bernama Indonesia, aneka ragam agama lahir dan bersatu. 

Satu2nya pandangan negatif yang hanya bisa dilemparkan oleh Malaysia adalah banyaknya para tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Apapun pandangan negatif itu buktinya Indonesia telah masuk dalam G20 (The Group of Twenty Finance Ministers and Central Bank Governors)

Dan kita semua tahu bahwa negara2 yang masuk dalam G20 adalah negara2 besar dan kuat. Bersama negara2 besar dari Asia lainnya seperti China, South Korea, Japan, dan India, Indonesia dipercaya oleh negara2 kuat dan kaya ini yang akan ikut membangun perekonomian dunia. 

Mungkinkah Malaysia iri karena hal ini? lalu pasang aksi untuk merebut semua apapun yang dimiliki oleh Indonesia untuk mendapatkan perhatian dunia dan masuk dalam jajaran negara2 elit seperti G20? Jika begitu, ambillah sesuka hatimu apa yang kau lihat dan kau dapat dari Indonesia. 

Hari ini saya dikejutkan lagi oleh sebuah iklan tentang Sumber Daya Alam Indonesia yang bercerita tentang nikmatnya kopi dan rempah2 dari Indonesia. Iklan tersebut menggambarkan tentang nusantara Indonesia dan menyebut kata Indonesia, dan terdiri dari orang2 Indonesia di dalamnya. 

Tebak siapa yang membuat iklan ini? Iklan ini adalah tentang produk makanan kripik kentang dari Eropa dan dibuat oleh perusahaan Eropa. Ini menandakan betapa dunia tahu tentang kekayaan Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia, tanpa harus di klaim secara sah, dari A sampai Z semua yang lahir dari Indonesia sudah terpatri oleh dunia sebagai trademark dari Indonesia. 

Tak Akan Indonesia Hilang Di Bumi, 
Apapun yang diambil dan diklaim dari Malaysia tak akan merubah dan mengurangi pandangan international terhadap kekayaan kultur Indonesia.

Melalui tulisan ini saya juga mau berterimakasih kepada Malaysia, karena hal ini, para ikatan pemuda pemudi Indonesia di Eropa lebih giat dan rajin dalam pementasan budaya international. 

Team kultur Indonesia kini lebih percaya diri, lebih kuat, lebih sehat dalam berpikir dan bersaing dengan budaya negara lain. Team budaya Indonesia tidak perlu membayar televisi untuk mendapatkan perhatian dari khalayak media cetak dan elektronik, lha wong sudah HUGE kok. 

Melihat team budaya Indonesia dengan aneka ragam baju adat sudah menarik perhatian mereka, dan cepat2 lari dan mengatakan "Guys, you look stunning!" Tak Indonesia hilang di bumi, Mari bersatu demi pertiwi yang bernama Indonesia. 

Fokuskan diri, Indonesia menjadi yang lebih baik, tidak perlu membuang tenaga dengan menghardik dan mencaci maki seorang maling yang sibuk mempercantik diri dengan milik orang lain. 

Keberadaaan Indonesia di G20 menandakan Indonesia berada jauh didepan Malaysia. Ini adalah kesempatan terbesar Indonesia untuk mengembangkan ekonomi yang lebih baik dirumah sendiri. Seribu bahkan sejuta budaya yang akan dicuri, Indonesia akan tetap sama, yaitu NUSANTARA. Begitupun dunia akan tetap melihatnya sama yaitu A PARADISE. 

Mengklaim sesuatu sangatlah mudah dilakukan, tapi tidak untuk suatu budaya yang lahir secara turun menurun dari nenek moyang. Ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh negara manapun, karena mereka harus mengklaim kepada setiap 7 turunan perkeluarga yang ada di planet bumi ini. 

So good luck Malaysia.
 DBLN, 19.39-250809

8 comments:

  1. langkah yang perlu mulai sekarang ini adalah upaya mendata dan mendaftarkan seluruh perangkat dan produk seni budaya asli Indonesia guna mendapatkan hak paten, sehingga tidak mudah diklaim produk negara lain dan yg lebih penting berdayakan budaya kita ini jangan hanya slogan saja.

    ReplyDelete
  2. saiia setuju sama 'Mengklaim sesuatu sangatlah mudah dilakukan, tapi tidak untuk suatu budaya yang lahir secara turun menurun dari nenek moyang.' itu artinya.. tak akan ada yg bisa mengklaim suatu kebudayaan menjadi milik suatu negeri yang bukan pemiliknya secara sah...

    malaysia tidaklah mengklaim... sebagai (katanya) the trully asia, mereka mencoba menarik pihak luar untuk masuk teritori mereka dengan senjata yg paling ampuh (itu juga karena kepandaian mereka, karena maereka tahu..) dengan kebudayaan...

    malaysia, bangsa yg gag punya ciri khas sendiri... bangsa yg bukan terdiri dari orang asli... semua yg ada di sana itu orang luar... India, Suriname, China, you name it lah.. semua ada.. makanya karena mereka gag punya ciri khas mereka sendiri, karena mereka memang gag punya indung.. mereka pergunakan apa yg ada di diri mereka sekarang ini.. iia yg berasal dari org2 comotan tersebut...

    dari India, mereka comot satu.. mereka bilang... ini Trully Esia.. dari China mereka cabut satu.. mereka bilang.. ini trully esia... mungkin juga di sana ada orang Bali... maka mereka anggap.. ini Trully Esia.. Malaysia... mereka gag mengklaim.. karena mengklai itu sama saja dengan menggali kembali 7 turunan perkepala yg ada di Indonesia misalnya... gag mungkin itu terjadi...

    Festival Jazz terbesar di dunia adanya dimana... Indonesia. kita teriakkan sekenceng2nya bahwa jazz terbesar itu ada di Indonesia... kita mengklaim jazz sebagai musik Indonesia... sepertinya gag gtu dee... dan bule pun tau itu.. seberapa besarpun Jazz yg ada di Indonesia, bule tau bahwa Jazz itu tetep punyanya Amrik... bgtu pula.. tari pendet.. lagu rasa sayange dsb...

    @ bayunature : paten?!?!?? utk apa...?!?! tokh barang2 tersebut memang adanya di sini ko' di Indonesia... tokh kebudayaan tersebut memang bener2 milik kita ko'... seluruh dunia juga tau... jika seandainya Malaysia mengakui... maka mereka tengah mendapat sorotan dunia...

    Kain... tanpa di patenin.. itu memang milik kita bangsa Indonesia ko'... itu memang lukisan yg menghiasi rumah kita bangsa Indonesia, yg walupun gag tiap hari kita liatin, kita plototin, tp begtu tiba2 tetangga punya dengan corak dan tipe yg sama kita lalu ngerasa kebakaran jenggot... orang yang akan menilai... org yg akan menilai... :)

    ReplyDelete
  3. Pertama saya promosi pariwisata dulu diajeng...
    baru-baru ini Gubernur Sulsel mencanangkan "Visit South Sulawesi Colours 2010" dengan mengangkat TORAJA dan TAKABONERATE ISLAND sebagai daerah tujuan wisata yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Dewata.

    ReplyDelete
  4. Mari bersatu demi pertiwi yang bernama Indonesia. Fokuskan diri, Indonesia menjadi yang lebih baik, tidak perlu membuang tenaga dengan menghardik dan mencaci maki seorang maling yang sibuk mempercantik diri dengan milik orang lain. Saya sangat setuju dengan pernyataan ini.

    ReplyDelete
  5. kalau menurut saya ini strategi malaysia untuk mempromosikan Negaranya secara International, tapi karena dia tidak memiliki produk budaya yang dapat menjual maka dia pakai produk - produk negara asia, mungkin juga di sesuaikannya dengan semboyan Malaysia is "Trully Asia" :P

    ReplyDelete
  6. Mestinya kerja intelijen juga diarahkan ke sana. Ada pendapat bahwa pengeboman di Indonesia difasilitasi intelijen malaisia supaya indonesia turis tidak datang. Nah mestinya kita juga bikin kontra intelijen untuk hal-hal seperti itu. Jadi jangan hanya mencurigai yang berjanggut dan bersorban. Tapi sesuatu yang sistematis juga perlu dilakukan untuk menjaga keutuhan tanah air kita

    ReplyDelete
  7. Setoj0o.. sama jeng sri sama genial.
    Orang bisa menilai.
    Biarin orang2 yg menilai.

    ReplyDelete
  8. Tulisan Jeng Sri bagus banget...!!
    Malaysia mengira bahwa selama ini bangsa-2 lain belum mengenal Indonesia sama sekali...

    ReplyDelete

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds