Bukan Bangsa Sumpah Serapah

Tuesday, October 28, 2014 JS Hanniffy 0 Comments



Menyemangati pikiran positif tentang tanah kelahiran sendiri adalah sesuatu yang jarang-jarang ada dikepalaku saat Ini. Pasalnya, berita media tentang pro's dan con's tentang kepresidenan dan pemerintahan seperti momok menjijikkan untuk ditonton sejak kepemiluan yang kemarin. Tiba-tiba muncul disana sini orang pintar dadakan, orang yang bisa mengerti tentang kenegaraan *katanya*, bahkan anakku yang usia 14 tahun sudah berani mengemukakan pendapatnya tentang kepresidenan, lebih kepada merendahkan daripada sebuah pendapat *duh*.

Sebagai orang tua tentunya aku ingin memberikan contoh sebaik kepada anakku dengan tidak berbicara nyeleneh tentang sesuatu, apalagi soal pemerintahan. Aku pribadi tidak mau memberi kesan bahwa pemerintahan itu buruk di matanya, tetapi aku juga tidak bisa mengunci segala Informasi yang masuk - hasilnya, dari segala yang ia dengar dan lihat, munculah opini ngasal tentang seorang presiden. 

Bagaimana tidak, anakku hanya bisa melihat dari sisi kacamata usia 14 Tahun: dua kubu menghujat satu sama lain. Gambar di internet yang mengejek kedua capres saat itu benar-benar memilukan hatiku sebagai seorang ibu. Yang lebih pilu adalah hal seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup dewasa.

Tentunya diusia seperti anakku ini aku berharap dirinya bisa memahami konsep benar dan salah pada sebuah perbuatan. "Menghujat itu salah dan tidak boleh dilakukan dengan alasan apapun" pesanku pada anakku. Tapi satu pesan dan nasihat seorang ibu tidaklah sekuat tapal kuda jika kekuatan lingkungan sekitar lebih kuat. Dan aku hanya bisa memberikan contoh dengan sikap, dengan tidak menjelekkan siapapun dan tentang apapun. 

"Selalu ada sisi baik dan buruk dalam diri seseorang, dan kita tidak berhak menghakiminya". Seandainya kata Ini bisa kuucapkan keanakku seribukali dalam sehari untuk membuatnya berhenti berkata buruk tentang salah satu capres, maka percayalah aku sudah melakukannya. Tetapi ya itu, contoh buruk dimana-mana, dan anakku pun berkata: "kita berhak bicara Mam".

See. Sepertinya hampir dari semua lapisan masyarakat tidak menyadari dampak psikologis anak muda dan remaja dari apa yang sedang berlangsung dinegeri ini. Semua memiliki hak bicara, sampai lupa untuk menyaringnya terlebih dahulu.

Hujatan yang berdarah-darah
Ini Pertama kalinya aku berbicara soal capres. Kembali kemasa pilpres yang baru saja berlalu, tetapi masih bisa dirasakan ketegangannya hingga saat Ini. Rasanya buruk sangka itu sudah seperti makanan enak yang siap disantap oleh hampir seluruh lapisan masyarakat diIndonesia semenjak pilpres lalu. Tidak ketinggalan kaum petinggi, juga berperan serta dalam kelas hujat menghujat. 

Timeline sosmedku penuh dengan postingan tentang artikel presiden, baik dan buruk, dan  pilpres tahun ini lebih mengarah kepada perpecahan. Malah tidak jarang seseorang menjadi putus silaturahmi persahabatan dan kekeluargaan hanya gara-gara persoalan sepele Ini. 

Ya sepele sekali. Hanya menyoalkan capres, kita rela menghujat saudara sendiri. 

Tentunya aku tidak menyalahkan isi kepala yang lagi down pada nusantara, karena isi kepala Itu juga berasal dari apa yang dilihat dan dirasakan. Sah-sah saja berkeluhkesah tentang jadulnya tanah air, dan ingin ada perubahan negeri ini, jika memang itu isi hati tentang kecintaan pada negeri, why not? Silahkan tumpahkan isi hati demi kemajuan bangsa yang lebih baik tetapi ingat akan budaya sopan santun dan saling menghargai yang sudah ditanamkan oleh nenek moyang, bukan begitu?

Sedang kisrus-kisruhnya isi kepala Ini tentang negeri, tiba-tiba teringat Om Bakrie, suami dari almarhum Bunda Anis, yang Bunda Anis sendiri merupakan tokoh yang di kagumi oleh masyarakat Gorontalo. Yang dalam pertemuan singkat dengan beliau disebuah restoran diCitos, Om Bakrie ternyata sedang berdiskusi tentang penerbitan bukunya. 

"Buku apa itu Om?" Tanyaku penasaran kebeliau. "Tentang Indonesia .... " jawab beliau singkat, lalu menyambung "Hanya mau tetap berpikir positif" ucapnya sambil tersenyum simpul.
Beliau nampaknya tau dari gelagatku bahwa aku ingin beragumentasi tentang itu, tapi beliau terlalu bijaksana untuk menjadi lawan argumentasi. Akupun balik tersenyum, senyuman kalah telak sebelum game dimulai. 

Selamat Hari Sumpah Pemuda,
Jkt, 18.26-281014


0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds