Zara Zettira, Inspirasi Baru Untuk Menulis

Sunday, October 26, 2014 JS Hanniffy 0 Comments

Siapa sih yang gak kenal beliau ini, seorang penulis yang masih awet muda dan cantik diusianya yang ke empatpuluh lima ini memiliki  karya tulis yang berjibum. Dalam otak matreku inipun berpikir kalau sudah karyanya berjibum begitu maka kebayang seberapa banyak digit penghasilannya? Hihi.

Aku memanggilnya Mbak Zara, bertemu dengan mbak kece ini pada saat nonton piala dunia di Murphy Kemang. Awalnya aku menanyakan tentang beliau ke seorang teman dekatku. Gegara liat photo beliau dengan teman dekatku itu akupun langsung japri: "Eh, itu si Zara penulis kan?" Temanku mengiyakannya, lalu ku minta temanku yang gak kalah kece sama Mbak Zara itu untuk memperkenalkan aku ke Mbak Zara.

Alhasil, perkenalan yang kuimpikan itu terjadi. Dan inilah photo pertemuan pertama itu. 



(Kanan ke kiri: Aku, Mbak Zara, Irene, Ni Wari, Liesna, Binta)

Mbak Zara ini boleh dibilang salah satu makhluk ciptaan manusia yang sangat down to earth alias sangat, sangat, sangat sederhana. Layaknya tipe perumahan S4 (Sangat Sangat Sederhana Sekali) Mbak Zara tidak menunjukkan sama sekali dirinya sebagai orang yang popular. Karya Mbak Zara bukan hanya bejibum tapi juga terkenal, bukan hanya penulis buku tapi juga penulis film  sinetron, bukan hanya seorang penulis, tapi juga motivator, ah pokoknya masih banyak lagi talenta si Mbak ini, yang Mungkin kalau kutulis bersambung sampai seribu episodepun gak bakal kelar. 

Ibarat jualan sayur yang laku di pasaran, karya beliau kalau di googling tak terhitung lagi. Profilenya yang sangat berkualitas namun sikap beliau dengan ketenarannya itu adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang. Umumnya seseorang akan membangga-banggakan dengan sebuah karyanya, walaupun cuma karya picisan, tapi lain dengan si Mbak ini, beliau sangat rendahan, rendahan hati maksudnya. Pokoknya, berbincang dengan beliau itu seperti lagunya si Iwan Fals "Kemesraan ini janganlah cepat berlalu ...", aku ogah untuk say goodbye karena saking nyaman dan humorisnya beliau ini. 

Salah satu tulisan Mbak Zara yang sampai saat ini kusukai adalah Mimi Elektrik. Kisah Mimi Elektrik ini sangat popular dan digemari oleh anak-anak remaja pada tahun itu. Gara-gara keseringan baca Mimi Elektrik waktu masa remaja, akupun sering sekali menghayal bisa seperti Mimi yang bisa melakukan segalanya hanya dengan pikirannya. Gilanya, sampai sekarang kadang aku berkhayal sendiri: "Seandainya gue ini Mimi Elektrik" Haha.

Kiprah Mbak Zara ini ternyata bukan hanya didunia penulisan buku tapi juga ada didunia politik. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari seorang fans kalau ternyata idolanya itu memiliki kesamaan dalam sesuatu. Iya, nampaknya dari status Facebook Mbak Zara ini mendukung salah satu Partai di Indonesia, yang kebetulan pula aku mendukungnya. Aku tambah naksir aja dengan Mbak kece ini, pasalnya beliau memiliki pemikiran tentang dunia politik yang sama persis denganku. Entah beliau yang ngopi aku atau kebetulan aja kita sama. Haha.

Kebayang ya kalau Jadi salah satu pendukung politik tahun ini, pastinya kisruh-kisruh gitu kan. Aku pribadi tidak mau menimbulkan polemik diantara teman-temanku yang kebetulan bersebrangan denganku dalam pemilihan presiden, dengan tidak memposting apapun tentang pemilu atau presiden cukuplah untuk menjauhkan aku dari masalah (yang padahal aku sendiri ingin sekali menulis sesuatu yang ada dikepalaku tentang kepresidenan itu). Aku jadi seorang pengecut. 

Tapi beda setelah aku berkenalan dengan Mbak Zara dan membaca postingan-postingan Facebook beliau tentang politik diIndonesia. Keberanianku sedikit demi sedikit muncul. Iya, aku memang seharusnya tidak menjadi seorang pengecut untuk mengutarakan sesuatu yang menurutku benar, selama itu masih dalam konteks dilakukan dengan yang benar dan bijaksana toh?

Ngomong-ngomong bijaksana, hari gini memang sulit untuk menjadi bijaksana. Semua orang dari segala lapisan menunjuk orang lain untuk lebih bijaksana tapi kepada diri sendiri?

Salah satu yang membuatku kagum adalah, ketika suatu hari aku membaca sebuah postingan seorang pendukung salah satu presiden yang menulis status berupa hinaan dan cacian kepada pendukung sebrang, Mbak Zara dengan tulisan santun tetapi tetap menunjukkan seorang akademisnya merespon status tersebut. Padahal beliau ini adalah teman yang cukup dekat dengan sipembuat status, kalau orang lain mungkin sudah putus persahabatan saat itu juga tapi respon beliau tidak balik menghujat malah sebaliknya beliau menunjukkan diri dengan sikap diplomatis yang bersahabat. Bukan hanya itu saja, Mbak Zara selain bijaksana dengan kubu sebrang, beliau juga konsisten dalam berbuat sesuatu, tidak patah arang (sepertinya gitu ya Mbak  dirimu, hehe).

Tulisan tentang Mbak Zara terilhami dari beliau sendiri, setelah membaca karya-karyanya yang seabrek kayak kacang goreng membuatku semangat untuk menulis kembali. Paling tidak ini adalah sebuah awal, awal babak baru dari seorang yang sedang melamun dipadang tanpa huruf.

Terimakasih Mbak Zara, terimakasih untuk inspirasi yang tidak sengaja ini. Terus berkarya, terus mengilhami orang banyak. ❤️❤️❤️


Jkt, 18.29-261014



0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds