KRITERIA MAJIKAN IDAMAN

Thursday, February 18, 2016 JS Hanniffy 0 Comments

Akhir-akhir ini saya hobinya lagi nulis tentang sang 'idaman'. Ada apa sih memang sama sang idaman? Apakah sang idaman ini hanya berlaku untuk yang lagi ngidam? Ngiming-ngiming soal lagi ngidam, saya memang lagi 'ngidam' pengen pecel madiun :). Minggu lalu saya sempet posting soal makanan idaman suami dan menggaet hati pria idaman diblog tersayang ini. Ketika suatu pagi si Purwanti yang akrab dipanggil Pur ini ngebahas soal demo para bebong (begitu dia menyebut pembantu), tiba-tiba terbersit sebuah ide untuk menuliskan ini.

Untuk jadi majikan yang disukai pembantu alias asisten rumah tangga ini dan bikin dia betah untuk kerja sama kita itu sebenarnya gak repot apalagi pake makan hati segala. Mungkin para mamih sudah sering ya dapat tips bagaimana agar asisten betah kerja. Tips-tips ini bisa berguna bagaimana kita 'memperlakukan' asisten yang sebenarnya (sengaja nih saya kasih tanda kutip di kata memperlakukan karena memang issue ini sering terjadi diIndonesia).

Pur sendiri sudah bekerja dengan saya sejak saya tinggal diIndonesia dan dia memiliki background kerja yang gak suka ganti-ganti majikan. So, tips sederhananya itu kalau mau cari asisten itu utamakanlah orang yang memiliki pengalaman kerja lama dengan satu majikan. Apalagi diJakarta cari seorang asisten yang 'benar' itu memang gak mudah. Malah temen saya sempet nyeletuk kalau cari suami itu lebih gampang daripada cari pembantu, lol. Ditambah banyaknya jasa penyedia asisten rumah tangga yang menyediakan anak muda dan belum berpengalaman. Hasilnya? Suka bikin masalah bertambah. Syukur betah sampe satu bulan, biasanya sih cuma sampe dua minggu aja udah top banget. Saya pribadi sih belum pernah pengalaman ambil dari yayasan, pengalaman ini dari temen-temen sekitar yang terpaksa harus ganti asisten dengan alaasan gak betah tapi biasanya sih selalu dari sisi siasistennya yang salah :).
Terlepas dari kisah para majikan yang gak percaya asistennya atau kisah negatif lainnya tentang seorang asisten, saya mau sharing dari sisi seorang majikan yaitu bagaimana menjadi majikan yang disayang sama pembantu. Lho, ada ya majikan yang disayang pembantu? Ada dong. Saya contohnya :). Pur ini luar biasa deh sayangnya sama saya. Apalagi kalau saya lagi sakit, saya gak perlu tanya apa yang saya butuhkan dia sudah tau. Seneng ya punya asisten model begini. Seneng pake banget pastinya.

Asisten seperti Pur ini susah dicari. Awal kerja tentunya gak langsung klop, selalu ada yang namanya ketidakserasian tapi lambat laun saya dan keluarga jadi klop sama semua yang dia kerjakan. Keserasian ini pastinya ada proses harus dilalui, dan proses ini membutuhkan kesabaran dan pengertian lebih dari pihak simajikan dari pada siasisten. Dalam proses itu ada kriteria yang dituntut dari majikan jika ingin siasisten bekerja lebih baik dari yang kita harapkan, dan inilah kriteria sederhana tersebut:

Bersikap positif
"Attitude is everything". Sikap itu penting dalam hidup, mau urusan yang penting atau tidak penting. Biasanya kita akan menjadi apa dan bagaimana hidup kita jadinya itu ditentukan oleh sikap. Seorang majikan yang menunjukkan sikap positif akan memberikan kesan sebagai  orang yang dihormati tanpa harus kita meminta dihormati. Sebaliknya sikap galak hanya memberikan kesan negatif dan memberikan rasa takut dan rasa takut tentunya beda dengan menghormati.

Kalau seorang majikan berpendapat bahwa galak itu penting maka percayalah asisten akan bersikap diam dan takut serta menuruti apapun yang diminta hanya dibelakang kita, tetapi sebenarnya dia tidak pernah mau menghargai majikannya. Alhasil, kerjapun jadi berantakan, kalau sudah begini gak akan ada keserasian antara majikan dan asisten dan akhirnya mengarah kepada saling menyalahkan dan siasisten minta berhenti kerja. Repotkan?

Jam kerja yang teratur
Ini juga salah satu issue diIndonesia yang sering terjadi. Saya sering mendengar jam kerja asisten yang sering berlebihan dari perjanjian yang seharusnya, khususnya mereka yang tinggal didalam rumah bersama majikan. Memang sih mereka mendapatkan segala keperluan dari majikan, tetapi alangkah manusiawinya jika majikan menanyakan lebih dulu apakah ia keberatan atau tidak untuk bekerja lebih larut. Contoh, kalau kita  mau pulang larut malam, ya usahakanlah tidak membangunkan pembantu, bawalah kunci pagar sendiri kalau tidak punya saptam dirumah. Bayangin pembantu itu bangun kerja dari subuh, masa harus membiarkan dia menunggu kita sampai larut malam. Dan, paling gak nih kalau memang mau pulang larut malam beritahukanlah dia dengan jujur kalau kita mau pulang malam. Gak perlu membohongi dengan bilang" "Pulangnya sebentar kok mbak" ternyata sampe subuh gak pulang-pulang :).

Terutama  untuk yang punya baby atau anak kecil, jangan dibiasakan membohongi pembantu masalah soal mau pulang cepet ya karna pembantupun akan memberitahukan hal yang sama pada sang anak. Kasian kan kalau sianak nunggu simamih gak pulang-pulang, nanti sianak lebih suka sama simbak daripada simamih lho.

Makan yang teratur ya Mbak ...
Tentunya asisten gak akan punya pola makan yang sehat dan teratur kalau majikan sendiri gak teratur. Selalu ingatkan simbak kalau didapur itu harus ada nasi, paling gak kalau orang lapar ada nasi yang bisa dibikin nasi goreng atau tinggal bikin ceplok telor. Ingatkan dia kalau makan yang teratur itu penting untuk tubuh dan kesehatan karna kalau gak teratur bisa jatuh sakit.

Jadi ketika kita mendidik simbak seperti itu kita juga sebaiknya ngecek apakah dikerjakan atau tidak sama simbak. Jangan cuma bilangin aja tapi gak dicek. Karna pada saat kita ngecek simbakpun jadi mengerti kalau kita sungguh-sungguh memperhatikannya.

Kebutuhan dan kesehatannya itu penting banget lho
Kayak anak sendiri aja ya kita harus memperhatikan kesehatan dan kebutuhannya. Oh iya dong, karena ini memang salah satu tips untuk membuat pembantu betah. Lagipula kalau sakit kita juga kan yang repot, apalagi kalau kita memang biasa apa-apa pake pembantu. Gak harus memperhatikan semua kebutuhan, dengan membelikan pembalut pada saat kita belanja mingguan pembantu juga sudah merasa senang lho. Apalagi kalau sampai membelikan baju dan uang extra, saya super yakin simbak akan setia dan bekerja tanpa lelah untuk kita.

Jika sakit, tanyakanlah untuk pergi kedokter. Jangan sekedar nyuruh aja, tanyain juga dong apakah dia memiliki uang untuk berobat atau tidak, dan jika gak sibuk antarlah sendiri kedokter.

Bonus plus gajian jangan telat ;)
Ini kayaknya yang nomor satu ya. Kalau dia sudah bekerja sungguh-sungguh ditambah ekstra jam kerja maka berikanlah haknya dengan adil yang seadil-adilnya, Misalkan dihari lebaran atau natalan, selain gaji berikan juga t.h.r. Kalau saya biasanya memberikan satu bulan gaji penuh. Kalau memang gak bisa sebaiknya dari awal sudah diberitahukan lebih dulu biar gak kecewa karna mengharapkan t.h.r. Dan kalau memang kita berniat memberikan t.h.r itu nanti sebaiknya ditepati janji itu. Lebih baik lagi kalau kita bisa memberikan uang jajan. Meskipun ini gak harus tetapi ini bisa membuatnya merasa tenaganya diperhitungkan oleh kita.

Kasih dong si Mbak libur
Nah ini juga issue untuk tenaga kerja asisten. Kalau mau dia betah sebaiknya si mbak dikasih  libur, dia jugakan perlu piknik. Jaman sekarang kayaknya kalau pembantu gak dikasih libur kebangetan banget deh. Untuk itu sebelum mempekerjakan asisten sebaiknya juga didiskusikan soal liburannya. Kalau mbak saya liburnya sabtu dan minggu, juga tanggal merah alias liburan nasional.

Wah, banyak liburnya dong. Iya juga sih dan ini memang maunya saya karena saya juga gak mau semuanya tergantung pembantu. Enak lho me time dengan melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Gak semua juga urusan rumah tangga si mbak yang pegang kok, untuk sarapan pagi dan makan malam saya ngurus sendiri. Si mbak hanya pegang pekerjaan yang gak sempet saya kerjain, kayak bersih-bersih, mencuci baju dan menyetrika. Selebihnya, kalau soal dapur mah tetep saya yang pegang :).

Simpel alias gak ribet ya kriteria diatas. Sebenarnya hal ini bisa diperlakukan juga kalau kita punya karyawan. Tetapi tergantung individu juga bisa melaksanakannya atau tidak. Namun kalau  kita mau merubah sesuatu yang tadinya gak baik menjadi baik ya sebaiknya ada perubahan yang lebih positif. Bukannya malah menyombongkan diri status kita sebagai majikan. Asisten juga sama seperti kita, tidak suka kalau tidak dihargai.

Lagian, bukankah sebaiknya mendidik sipembantu jika kita merasa lebih baik darinya? Intinya, sesuatu yang sangat  basic sebaiknya dibicarakan dari awal kerja, seperti gaji, lemburan, tata kerja dirumah kita. Biasanya asisten gak langsung ingat semua do's & dont's yang sudah kita berikan. Nah, ini yang perlu kesabaran. Kalau belum pengalaman memang kita dituntut rajin mendidiknya tapi kalau sudah berpengalaman seperti si Pur biasanya hanya sesekali diingatkan.

Akhir kata, saya mau pamer photo sama Pur waktu diDuFan diacara launching Hello Kitty. Ini pertama kalinya dia keDuFan dan dia penggemar beratnya siHello Kitty. Kebayang gimana happynya dia kan? Well, I'm happy too :).



Akhirnya Pur bisa mejeng bareng Hello Kitty kesayangannya :)

Ini dia Pur yang cantik itu ^^

Saya sendiri merasa beruntung bukan termasuk orang yang suka ganti pembantu, lagian gonta ganti itu merepotkan. Daripada ganti pembantu lebih baik saya mendidiknya untuk lebih baik, kecuali dia melakukan hal yang fatal atau kesalahan besar yang tidak bisa ditolerir. Oh ya, biasanya kalau saya nulis tentang asisten rumah tangga ini saya suka kasih tau Pur untuk membacanya juga. Dan paling-paling dia ketawa dan berkomentar: "Aduh Ibu, itu photo selebritis kok dipajang".

Nyaman rasanya mempercayakan orang yang bekerja dengan kita tanpa rasa was was dan gak berpikir buruk tentang apapun, tapi tentunya kita harus menunjukkan pikiran yang baik dalam bentuk sikap yang positif lebih dulu sebagai contoh ya :).

See ya,





0 comments:

Nice saying shows your character but that doesn't mean you can criticize. You can still do both in nice and polite way.

Blogger since 2008, writing with a fresh perspective.

Twitter Feeds